Selasa, 27 Januari 2009

PILIH-PILIH SEKOLAH ANAK


Sebagai seorang ibu, wajar jika kita ingin memberikan yang terbaik untuk sang buah hati. Tapi kadangkala keinginan dan harapan harus juga sebanding dengan kebutuhan dan kemampuan. Jangan sampai hanya karena memenuhi ambisi sang ibu, anak menjadi korban, karena terpaksa/dipaksa melakukan sesuatu yang telah dipilih orangtuanya.

Waktu Haura berusia 2 tahun lebih, dia sudah ingin sekali sekolah. Tiap kali melewati TK dekat rumah, atau sedang melintas melewati TK yang lain, dia akan berucap, ”Itu sekolahku ya mi…”. Sampai-sampai saya tidak tega dan berjanji padanya “Iya nak, nanti kalo Haura sudah 3 tahun ya baru sekolah.” Maka ketika Haura sudah berusia 3 tahun, mulailah ia sekolah playgroup di dekat rumah. Selain Haura sendiri yang memiliki keinginan untuk sekolah, saya pikir hal ini juga baik untuknya belajar bersosialisasi dg teman2 sebayanya.

Saya pribadi memang tidak ingin membebaninya dg sekolah, saya ingin putri saya bahagia tanpa banyak tuntutan dari kami orangtuanya, saya ingin dia menjadi pribadi yang mandiri dan percaya diri. Banyak ibu yg ingin menyekolahkan anaknya agar cepat bisa membaca dan menulis di usia dini, padahal tidak semua anak bisa begitu. Setiap anak punya kecerdasan mereka masing2. Bisa jadi kakak beradik pun tidak sama kecerdasannya, kalo sang kakak bisa membaca di usia 3 thn, dan si adik di usia yg sama tidak terlalu ‘ngeh’ dg huruf2 alphabet, bukan berarti sang adik lebih bodoh dari sang kakak. Pdhl di sisi lain si adik lebih peka pd orla, lebih mandiri dlm mengurus dirinya, dst. Kita lebih sering melihat orang dari kecerdasan intelektualnya, daripada hal positif lainnya.

Berkaca dari pengalaman pribadi, sejak kecil saya selalu dituntut menjadi juara kelas, walaupun hal itu positif sehingga membuat saya terpacu untuk selalu jadi yang terbaik, tapi ada juga suatu fase dimana saya merasa tertekan saat saya gagal memenuhi harapan ortu. Memang suatu yang wajar, jika ortu bangga dg prestasi anak secara akademik, tapi sebenarnya kecerdasan itu tidak melulu didapat dari apa yang tertulis di dalam rapor. Ada kecerdasan2 lain yg juga patut kita apresiasi/hargai. Kata para ahli nih, ada 10 ruang kecerdasan ataw bhs kerennya Multiple Intelligence, yaitu: Kecerdasan Berbahasa, Kecerdasan Matematis, Kecerdasan Sebab-akibat (Logika), Kecerdasan Spasial-visual (kecerdasan yg berhubungan dg bentuk, ruang dan warna), Kecerdasan Musikal, Kecerdasan Kinestetik, Kecerdasan Interpersonal (pandai membuka dan memelihara hubungan dg orla), Kecerdasan Intrapersonal (peka thd dirinya, sng mengintrospeksi dan merenung), Kecerdasan Spritual, dan terakhir, Kecerdasan Finansial (kecerdasan dlm mengelola keuangan).

Lho, apa hubungannya ya multiple intelligence itu ama pilih sekolah? Ada juga lah, hehehe... sedikit sok tahu nieh. Menurut saya, kalau sejak dini sudah kelihatan apa kecendrungan sang anak, tentu jadi memudahkan ortu memilihkan sekolah utk anak yg selaras dg kebutuhan dan kemampuannya. Walah, makin ngejelimet aja kata2nya, hahaha…
Orangtua biasanya lebih mengenal anaknya shg kurang lebih tahu apa kelebihan, kesukaan dan kecendrungan anak. Tapi kalau anak kita masih belum terlihat jelas apa kecendrungannya, apalagi di usia 2-3 tahun, coba lihat sesuatu yg menonjol dari anak (bawaan lahir misalnya), ada anak yg mudah hafal lagu walau baru beberapa kali mendengar, ada anak yang cepat bisa jika diajari mengenal bentuk sehingga di usia dini sudah bisa membaca, ada anak yang pandai berbaur, sejak bayi tidak rewel dan ramah pd orla walaupun baru dikenalnya, dst. Ya, susah-susah gampang deh…

Dulu saat saya memasukkan Haura ke playgroup, saya hanya melihat secara fisik ruang kelasnya baik, tercukupi untuk kebutuhan gerak anak, jumlah murid juga cukup (tidak terlalu banyak), alat peraga dan permainannya cukup baik, biaya sekolahnya juga terjangkau serta lokasinya dekat rumah. Tapi setelah sekolah berjalan, dari yang awal-awal sekolah sangat bersemangat, lambat laun (beberapa bulan kemudian), Haura terlihat bosan untuk sekolah. Maka saya mulai mengamati lagi bgmn Haura di kelas, ada beberapa hari, dlm satu hari penuh saya mengamati dari luar kelas bagaimana interaksi Haura dg temannya, jg interaksi guru thd murid2nya. Ternyata, waktu memilih sekolah, saya kurang jeli melihat apa-apa saja nantinya aktivitas dalam kelas, apa saja mainan atau alat peraga yg disediakan, dan bgmn kecakapan dan kreativitas gurunya di kelas.

Sebenarnya Haura mudah mengikuti pelajaran di sekolah, dia juga mandiri, tapi Haura termasuk anak yg moody dan mudah bosan, apalagi jika pelajaran hari itu kurang menarik baginya. Misalnya ketika apa yg sedang diajarkan gurunya, dia sudah bisa melakukannya. Kalau sudah begitu, Haura menjadi pendiam, tidak aktif/ malas berpartisipasi di kelas dan mencari kesibukan lain seperti bercanda dg teman ataw sibuk main sendiri dg imajinasinya. Makanya untuk anak balita, kecakapan dan kreativitas guru turut mendukung suasana belajar anak. Guru jeli saat melihat anak2 bosan/ tidak tertarik dg pelajaran saat itu, ia pandai membangun suasana kelas shg anak2 kembali enjoy di kelas dan berpartisipasi. Guru juga komunikatif shg anak merasa dia diperhatikan keinginannya, bukan dipaksa/terpaksa melakukan tugas karena ancaman. Maka pelajaran kedua yg saya dapatkan adalah carilah sekolah dimana para guru terbuka terhadap ortu (ada komunikasi terjalin, ada pertemuan2 rutin di luar jam sekolah) shg gap antara guru dan ortu bisa diminimalisir, ortu dan guru bisa bekerjasama utk kemajuan anak.

Masalah pendidikan anak memang tidak bisa sepenuhnya kita berikan di sekolah, karena pendidikan anak yang utama adalah dari orangtuanya. Itulah mengapa harus ada keselarasan dalam mendidik baik di rumah dan di sekolah, ada kerjasama dan komunikasi yg baik antara guru dan orangtua. Sbg contoh, ketika anak di sekolah diajarkan tutur kata yg baik, tapi di rumah dia biasa mendengar dan mendapat kata2 yg tidak baik, jangan salahkan guru jika anak kita sering ditegur. Atau ingin anak sholeh, di sekolah anak diajarkan sholat dan mengaji tapi di rumah, ortunya jarang sholat dan tidak pernah mengaji, tentu tanpa diminta anak akan menjadi sama seperti ortunya. Menjadi orangtua yg baik memang butuh perjuangan. Berjuang dan terus belajar untuk memperbaiki diri. Seperti apa anak kita kelak, tergantung contoh nyata ortunya.

Kamis, 22 Januari 2009

DEMAM SEPEDA RODA DUA & RUANGAN TANPA SEKAT


Anak-anak memang selalu senang bergerak, mereka pun tak bisa bermain sepanjang hari dengan satu jenis permainan. Saya suka memperhatikan Haura dan teman bermainnya, jika mereka mulai bosan dg permainan yg ada, maka mereka mulai menciptakan permainan yg baru, sampai mereka bosan lagi dan punya permainan lain yg baru lagi. Saya pikir hal tsb dapat membuat mrk kreatif. Kadangkala ada juga saatnya satu jenis permainan mendominasi selama berjam-jam lamanya, tapi tidak akan pernah bertahan lama sepanjang hari hanya dg main itu-itu saja. Mungkin pendapat saya ini tidak mewakili semua anak, karena objek pengamatan saya ya putri kecil saya itu yg masih di tahap balita.

Seperti beberapa waktu ini, hampir satu pekan, Haura dan kak Meru lagi senang2nya main sepeda roda dua. Khusus untuk Haura sebenernya roda tiga (ada 1 roda kecil bantuan, karena Haura blm pede ketika roda kecilnya dilepas). Setiap hari, mereka berdua begitu bersemangat menunggu waktu main sepeda tiba (soalnya mereka baru diizinkan main di luar rumah di waktu sore hari). Kadang peserta bertambah satu, temannya Haura, si Idham yg usianya lebih tua 8 bln dari Haura. Idham sudah jago bermain sepeda roda dua. Maka mereka bertiga akan bermain sepeda bolak-balik di jl.juragan Sinda IV sampai habis tenaga dan berpeluh keringat, berjam-jam lamanya tak terasa bagi mereka yg sedang bersemangat, sekan tenaga tak ada habis-habisnya. Dan permainan tsb pun kadang harus berakhir saat salah satu dari mereka dipanggil pulang. Usai bersepeda, kadang saya mencuci roda sepeda Haura, karena Haura juga senang bermain sepeda mininya di dalam rumah. Kebetulan rumah saya antara ruang tamu, ruang keluarga dan ruang makan tidak dibatasi sekat pembatas shg ruangan terasa luas, selain karena peletakan perabot rumah seperti sofa dan meja makan yang berada di pojok ruangan sehingga membuat anak2 leluasa bermain sepeda kecil, magic car dan mobil mini di dalam rumah. Tapi, polusi suaranya itu loh, haduh, kalo mrk sdg main, bising banget, tapi lama2 sih saya terbiasa, hahaha…

Pernah ada teman yang berkunjung ke rumah, dan bertanya kenapa saya tidak menyekat tiga ruang tsb agar lebih rapi, tidak blong (memang dari sofa di ruang keluarga bisa terlihat jelas seisi rumah kecuali kamar tidur ortu dan wc). Saya jawab karena saya masih punya anak kecil. Saya ingin anak2 bebas bereksplorasi dg ruangan yg luas. Dan hal tsb juga memudahkan saya yang single fighter di rumah (tanpa mbak prt), sambil beraktivitas tp tetap dapat mengawasi Haura dan teman mainnya. Saya pribadi, kurang merasa nyaman, jika Haura main di luar tanpa pengawasan. Haura masih 3.5 thn, saya masih khawatir kalo2 ada orang jahat, takut diculik atau takut Haura tertabrak motor/mobil, karena rumah kami bukan di komplek tapi di lingkungan rumah penduduk yang jalannya bebas dipakai siapa pun, apalagi motor-motor yang lewat depan rumah kami itu suka sekali ngebut, mungkin karena daerah gang kami cukup sepi dan beraspal. Maklumlah ibu-ibu suka parno alias paranoid,hehehe…

Ruangan yg blong bagi saya saat ini sangat berguna, karena saya bisa membaca atau utak-atik komputer ataupun menonton TV di ruang keluarga, bahkan sambil memasak dan mencuci piring di dapur dapat saya lakukan sambil tetap mengawasi anak2. Memang ada beberapa pekerjaan rumah yg tidak bisa dikerjakan selama anak2 sedang bermain, seperti menyetrika baju dan mengepel lantai. Itu saya kerjakan di saat Haura tidur. Untuk TV, saya cukup selektif, jika anak2 sdg asyik bermain di dalam rumah, saya hanya menonton acara yg aman utk anak2, seperti acara good morning, apa kabar Indonesia, wisata kuliner, harmoni sehat, siraman ruhani, news, dll, tdk boleh ada adegan kekerasan baik fisik maupun verbal, tidak boleh nonton sinetron apalagi gosip, karena walaupun anak tidak ikut menonton tapi dia bisa mendengar dan mencontoh ibunya. Sebisa mungkin memberi pembiasaan pada anak mana yg boleh ditonton, mana yg tidak. Alhmd, putri saya pun mengerti aturan yg saya terapkan. Bahkan jika sedang menginap di rumah nenek, dia akan spontan berkomentar jika melihat tayangan yg tidak baik, seperti saat neneknya nonton sinetron “Nek, itu gak bagus..” Hahaha…

Back to topic ruang tak bersekat, saya pikir tiap orang bisa berbeda-beda dalam mengatur rumahnya, tergantung selera, kenyamanan dan kebutuhan. Mungkin jika Haura dan adik2nya sudah besar, rumah kami bisa dibuat lebih tertata (bersekat, jelas organisasi ruangnya), karena setelah menanjak remaja, anak-anak biasanya lebih butuh space pribadi seperti kamarnya sendiri untuk diuprek-uprek sesuka mereka. Ya, flexible aja lha yaaa…

HAURA, PALESTINA DAN ORANG-ORANG KERDIL


Haura, gadis kecilku yg 4 bulan lagi genap berusia 4 tahun, sudah 2 pekan ini sedang bersemangat dg berbagai hal tentang Palestina. Jika saya sedang menonton TV-One dan ada iklan tentang Palestina, dia akan berlari mendekat dan berkata ”Palestina, kasian ya, mi…” Tentu saja dia berucap begitu karena pernah bertanya tentang Palestina.

Suatu hari menjelang tahun baru, umi dan ayah menonton acara berita di TV-One, ternyata liputan ttg pemboman Israel thdp Palestina. Kita pun jadi terlibat pembicaraan yg ternyata didengerin Haura, yg lagi curious itu. “Kenapa sih Mi, itu?” saat itu sedang ditayangkan rumah sakit di Gaza yg rusak, di ruang ICU itu terbaring seorang anak kecil, kaca-kaca jendela di atas tempat tidurnya pecah, kaca berserakan di lantai. “Kasihan ya nak, kakak itu sakit. Jendela kamarnya pecah kena bom,” kataku. “Iya, kasian ya mi…” usai berkomentar ia pun kembali ke kamarnya sibuk bermain bersama boneka-bonekanya lagi.

Di hari yang lain, dia bertanya, “Mi, Palestina itu apa?” maka saya berusaha menjawab dg sesuatu yg semoga bisa dimengerti dia, “Hmm… Palestina itu Negara. Benderanya ini (saya tunjukan bendera Palestina kebetulan sedang tayang di TV), kalo kita itu orang Indonesia, benderanya merahputih.” jawab saya yg dibalas anggukan Haura, ”Ooh…” Lalu seperti biasa Haura pun kembali sibuk dg mainannya. Memang semakin tambah usia, anak balita makin banyak bertanya, makin kritis dan ingin tahu dg keadaan sekitar.

Ketika pada suatu hari Haura ikut aksi damai solidaritas mendukung Palestina, dia begitu bersemangat. Bangun tidur langsung minta mandi, “ayo mi, kita ke Palestina.” Haduh, lucu dan polosnya, padahal di hari biasa dia paling malas disuruh mandi, hehehe… Usai acara, Haura minta dibelikan lagu (nasyid Shoutul Harakah yg menceritakan perjuangan bangsa Palestina) yang tadi dia dengar saat aksi, Haura memang senang bernyanyi. Jadi ayah mencarikan, dan setelah dapat, Haura senang sekali, setiap sore usai bermain sepeda, dia mendengarkan nasyid tsb dg keceriaan khas anak-anak, bernyanyi sambil melompat-lompat. Bahkan saat neneknya (ibuku) menelpon (Haura itu suka banget ngobrol lewat telpon dg neneknya dan mbak Fira, sepupunya yg TK), eh bukannya ngobrol, malah sepanjang telpon, dia nyanyi lagu ”Harapan itu Masih Ada”, sampai-sampai ibuku tertawa geli dan berkomentar “Haduh, cucu nenek, kecil-kecil jadi mujahidah ya…” Hahaha…

Selain semangat bernasyid, Haura juga suka bermain peran bersama kakak sepupunya, main perang2an melawan Israel. Maka merekapun bergaya bak jagoan, kepala diikat tulisan ”Save Palestine”, si kakak yg berusia 7 thn membawa senapan mainan, sedang Haura membawa bonekanya, kadang juga Haura membawa kotak peralatan dokternya. Kalo jadi dokter, Haura mengobati kak Meru jika tertembak Israel. Kalo sama2 jadi pejuang sibuk berdarderdor. Dasar anak2, ada-ada saja gaya mereka, imajinasi mereka bisa bermain sesuka hati. Saya suka tertawa geli melihat tingkahpolah mereka.

Memang tragedi kemanusiaan di Gaza Palestina membuat siapa saja yang lembut hatinya utk merasa trenyuh, sedih dan berempati. Apalagi ketika melihat bayi, anak-anak kecil serta wanita-wanita yang menjadi korban terbanyak. Dunia pun terhenyak, seakan baru tersadarkan dari sesuatu yang sebenarnya sudah lama berjalan sejak puluhan tahun yg lalu, sejak Israel merasa berhak atas Negara Palestina, sejak Zionis mengusir paksa para penduduk Palestina dg moncong senjata dan bombardir bulldozer, dan setelah sedikit demi sedikit tanah Palestina berhasil mereka rampas, Israel mendirikan pemukiman2 utk warganya, maka wajar jika Hamas ingin memperjuangkan hak mereka mempertahankan Palestina sbg Negara yg merdeka.

Sungguh ironis melihat wajah dunia saat ini. Saat power masih dipegang oleh Amerika yg merupakan sekutu Israel. Walaupun dukungan terus mengalir utk rakyat Palestina dari berbagai penjuru dunia, bahkan oleh negara2 Eropa yg mayoritas beragama nasrani. Tapi di sisi lain, negara2 Arab dan negara2 bermayoritas penduduknya islam masih terlihat setengah hati dlm mendukung kemerdekaan Palestina,belum juga menemukan kata sepakat untuk secara ril menolong saudaranya. Bahkan di Palestina sendiri, daerah tepi barat yg mayoritas pendukung Fattah, seperti ”tidak peduli” dengan penderitaan saudara2 mereka di Gaza. Sebuah ironi bahwa kepentingan politik lebih mendominasi kepedulian terhadap sesama. Tapi inilah wajah dunia.

Di Indonesia pun beragam tanggapan atas tragedi Palestina ini. Dari yang mulai bersimpati, yang tidak peduli, bahkan sampai ada yg menghujat. Yg bersimpati, mengadakan penggalangan dana, rela menyisihkan hartanya, berdoa bersama, dan yang paramedis tergerak menjadi relawan kemanusiaan. Sedang yang tidak peduli, menganggap beban hidup disini saja sudah berat, kenapa harus memikirkan Negara lain, dst. Sedang yang mencibir orang2 yang ingin membantu rakyat Palestina sebisanya, mengganggap itu hanya karena kepentingan politik, agar menang pemilu, karena riya (pamer), dst. Bagi saya pribadi, orang2 yang mencibir itu sebenarnya hanyalah orang2 yang kerdil, orang2 yang tidak bisa dan tidak mau berbuat tapi hanya bisa mencari2 kesalahan orla. Kalo kita bersikap tidak peduli, itu hak anda pribadi, begitu pula yg ingin peduli adalah haknya pribadi juga. Kita seharusnya belajar saling menghormati perbedaan. Kenapa harus menghujat orang yang ingin berbuat baik?

Dan jawabannya saya rasa tergantung pada dimana hati kita berpijak. Seperti yang dijelaskan pak Mario Teguh di acara the Golden way sesi “Heal the World”, bahwa hati manusia itu terdiri dari dua titik, titik hitam dan titik putih. Titik putih yang mengajak kepada kebaikan, hal2 optimis, berpikiran positif, dst. Yang titik hitam mengajak kepada keburukan, pesimistis, mudah berprasangka buruk, dst. Titik tsb bisa diibaratkan sebagai dua ekor anjing peliharaan, si hitam dan si putih. Yang manakah yang lebih sering diberi makan oleh kita, itulah yang mendominasi hati kita.
Ayo, kita lebih sering kasih beri makan si putih atau si hitam? Hohoho…

Rabu, 07 Januari 2009

PILIHAN MJD FREELANCER

Alhmd, November 2008, dapet kerjaan freelance, revisi en nambah gbr2 kartun utk buku AMPUH mjd cerdas tanpa batas, terbitan Elex media komputindo (kelompok penerbit gramedia), dulu pertama kali terbit bulan Juli 2002. Skrg masuk cetakan ke-6, en si bpk penulis pingin ada penambahan ataw perubahan pada gambar2 kartun di buku itu.

Awalnya sih, gak masalah. Malah seneng, kayak dapet tantangan baru. Tapi... setelah dijalanin mulai ada mslh2 kecil. yang mencuat adalah masalah perbedaan kondisi.

Kondisiku saat ini kan seorang ibu rumahan, praktis urusan rumah yg nomor satu, en ternyata jadi ibu RT itu menyenangkan bgt, terutama bisa melihat en ngedampingin my little girl di tahap golden agesnya ini bener2 karunia buatku. Hampir-hampir, saya lupa dg aktivitas di masa lalu, seperti gambar kartun itu, makanya mulai gambar lagi jadi tantangan buatku. Waktu dulu sering dapet job gambar, kondisinya saya masih single, masih kuliah, jadi gak perlu repot urusan masak, cuci, setrika, dst. Fokus utk kuliah en kelarin tugas gbr. Mo makan udah tersedia, masalah baju, ada mbak sam yg cuci en setrikain. Nah, pas skrg ini, saya sendiri yang masak, cuci ampe setrika, blom ngurusin Haura, kalo gak disuapin, gadis kecilku itu suka makan lauknya doang, nasi en sayur pasti masih utuh. Atau itu anak keasikan main, ampe lupa makan. ya begitulah... repot tapi menyenangkan.

Tapi saya udah bertekad harus bisa menyelesailkan tugas gambar ini. Inilah pilihan dan saya harus bisa menanggung segala resikonya.

Hari pertama mulai gambar, dung..dung.. semangat 45, menyiapkan meja gambar dg rapi berikut kertas putih dan peralatan gambar. Lalu mulai membaca secara cepat buku AMPUH utk membantu mengingat memori yg lama tersimpan.

Tapi... ternyata gak semudah itu...
Blom apa-apa kok rasanya buntu, baru mulai pegang pensil mo bikin sketsa,eh otak buntu,gak dapet gambaran apa yg mo mulai digambar, gak ada mood buat gbr. Maka pekerjaan tsb pun tertunda lagi.

Nah, pas lagi dateng mood-nya, si cantik haura mulai
ribut ikut-ikutan minta gambar. Kadang Haura udah anteng, eh ada lagi gangguan dari keponakan sebelah rumah. Lengkaplah sudah gangguan di pagi hari, siang hari serta sore hari yg cerah. Walhasil tidak ada satupun gambar yg bisa tertoreh di lembar kertas putihku ini. Malam hari, saat para anggota keluarga terlelap, aku pun dg manis ikut tertidur pulas, zzzz...

Maka, hari berganti hari, dan tenggat waktu sudah dekat, deadline sudah di depan mata, ya ampun, kalo kyk gini, kerjaan gak kan petrnah kelar. Suami pun sampe bosan mengingatkan, "Hayo Luy, gambar...". Tapi gak ada yg salah dg gangguan anak2, anak-anak ya tetap anak-anak, wajar mereka ingin diperhatikan, ingin diajak main, wong sehari-hari juga sama ibunya ini. Inilah pilihan, bekerja di rumah. Berarti harus mampu mengendalikan diri, mengontrol waktu. Ternyata beklerja di kantor itu lebih mudah, fokus dg pekerjaan tanpa ada gangguan berarti seperti mereka yg bekerja di rumah tanpa khadimat pula. Akhirnya daripada berkeluhkesah tanpa ada hasil nyata, saya mulai berhitung. Saya mulai menata lagi manajemen waktu saya. Dan karena waktu yg tersisa sudah terlalu mepet (tinggal 5 hari lagi), jadi saya harus bisa mengejar ketertinggalan. Bekerja di malam hari adalah jawabannya.

Sblm Haura bangun pagi, usai sholat subuh dan tilawah, kuselesaikan semua pekerjaan rumahtangga, Haura bangun, saya mandikan, menyuapi dan bermain bersama dia seperti biasa. Saat Haura tidur siang saya menyetrika baju. Lalu sore, Haura bangun, mandi, dan suami pulang kerja, Haura sama ayahnya, aku selesaikan pekerjaan rumah hari ini yang belum kelar, malamnya sambil menemani Haura bobo, dg sebelumnya bacain dia buku cerita, aku langsung cabut tidur, tidak ada acara nonton menemani suami, lalu pasang beker bangun jam 1 mlm, lgs dipake buat kelarin tugas gbr, terus begitu... Sehingga dlm waktu 5 hari, kelar sudah tugas ganbar.

Hari itu deadline pun tiba, kepala rasanya udah gak karuan, ngantuuuk... badan mulai terasa gak karuan, kayak orang mauk angin, gak nafsu makan, yg terbayang di otak cuma kasur. Malah haura terlihat ceria banget pagi itu. Alhmd, ada sms dari kak Baban, dia minta janji ketemu diundur jadi besok, alhmd... akhirnya hr itu gw en haura langsung berangkat krmh ortu, nginep! Alhmd suamiku orangnya baiiikk bgt, dia gak masalah kalo aku mo nginep krmh ortu kpn pun aku mau. Sampe disana, titip Haura en gw pun balas dendam... tidur booo... Abis udah berhari2 tidur cuma 3-4 jam tiap hari, kebayang kan ngantuknya, hehehe...

Alhmd...udah kelar gambarnya.. dg perjuangan tahan kantuk tiap malam, hehehe...

Hidup memang pilihan ya, sepatutnya setelah kita memilih kita gak boleh berkeluhkesah, tapi namanya jg manusia yg dhoif (lemah) jd ada cobaan dikit aja udah bikin festival airmata, udah nganggap hidup kita ini paling sengsara di dunia (biasa mendramatir keadaan deh). hehehe...

Dari tadi kan saya ngomong masalah susahnya jadi ibu freelancer. Tapi enaknya juga ada donk, kadang (tergantung jenis pekerjaannya), fee satu-dua minggu hampir sama dg gaji satu bulan kerja kantoran. Enak kan? nah, para ibu, ayo gunain kesempatan yg ada, jd freelancer itu enak lho... Apalagi kl ordernya lancar, hehehe...

Kamis, 04 Desember 2008

Lagi-lagi Haura


Haura ini lagi males bangun pagi. Kyknya semangat berangkat sekolah pagi2 lagi kendooor. Mo tau alasannya?
Satu, karena kostum. Haura itu anaknya rada pemilih, mo baju, mo mainan, mo makanan, apa aja harus dia yg pilih. Nah, kebetulan di antara 3 kostumnya (baca: seragam sekolah), ada 2 yg tidak dia suka. Kostum hari Senin: baju putih2 pake rompi, en kostum Jumat: baju muslim. Makanya kalo Senin/ jumat pagi dibangunin utk sekolah, dia pasti lgs ksh byk alasan biar gak pake tu' kostum. Dasar anak2 ya... Lucu, makin gede, makin byk punya alasan, tp bhub emaknya lahir duluan ke dunia fana ini juga punya beribu jwbn utk tiap alasannya, ya udah terpaksa si Haura pake tu' baju,hehehe...

Oya wkt weekend kemarin, kita refreshing ke Sukabumi, rencana mo ngenalin kehidupan alam desa ke anak2. Ternyata, Haura blom bisa, dia jijik bgt ama lumpur. Baru kecemplung dikit, udah histeris minta naik. Boro2 mo nanam padi en kejar (tangkep) bebek, ya udah si emak berpura2 berani, nyemplung lah ia ke lumpur. Proot... aduh geli bgt, lembek dan dalem? haduh pantes aja tadi Haura panik, berasa tanah yg kita pijak menyedot kita (taela..). Udah kepalang nyemplung, ya udah kejar2an lah tangkep bebek. Akhirnya dapet jg dg bantuan mas2 penjaga, hihihi... Kesian bgt nasib si bebek, bis dikejar2, lalu berikutnya dia dimasak buat makan siang, hiks! kejam... tapi kok enak jg makan bebek goreng.. hmmm nyamiiiiee... kebetulan perut kosong, jd ludes lah tak bersisa... Siang sblm pulang, Haura naik delman keliling kampung en coba naik flying fox. Aduh, emaknya yg copot jantungnya, takut si kecil jatuh. Haura sih awalnya berani, waktu disuruh manjat sendiripun semangat, tapi pas udah di atas, mulai dia takut, ya udah ditemenin ayah deh Haura meluncur ke bwh, suiiing meluncur deh dia, baru kakinya napak di tanah udah meledak tangisnya, hahaha... Tp dia seneng jg, namanya jg pengelaman pertama, msh nervous. Eh kebetulan si emak seumur2 jg blom pernah coba. Kata misua, hayo jgn kalah ama anak. Ya udah kucoba, masya Allah, seumur2 kagak pernah manjat pohon kelapa, pas manjat kok lama bgt nyampenya, baru setengah manjat udah pengen turun lagi, liat ke bwh, idih serem juga, ya udah paksain naik ke atas. Suiiing meluncur deh... Eh, ternyata enak juga, pantes yg udah naek pada ketagihan mo ngulang lagi.. Dasar manusia... Gak pernah puas, hehehe..

Wah, gak terasa ketak-ketik, eh udah dikit lagi Haura pulang sekolah, kudu jemput nih, kalo gak bisa2 dia manyun kayak kemaren wkt aku telat jemput. " Umii, kemana aja sieeh?" padahal bis ketemu aku dia lari main lagi, ya ampunnn, dasar bocah ya... kirain pengen cepet2 pulang ataw kangen uminya gitu, hihihi...

Selasa, 12 Agustus 2008

SAAT HAURA INGIN PUNYA KAKAK DAN ADIK

Suatu hari yang cerah, putri saya yg berusia 3 tahun 2 bln, sedang asyik bermain dengan boneka Minienya sambil bernyanyi "satu-satu aku sayang ibu, dua-dua juga sayang ayah, tiga-tiga sayang adik-kakak...", lalu ia pun berhenti bernyanyi, ia berkata: ": Umi... umi, Haura kok gak punya kakak dan adik sieh? haura kan mau punya kakak sama adik." Rasanya geli sekaligus menohok hati saya. Memiliki momongan lagi juga merupakan keinginan saya. Saya jelaskan padanya bahwa Haura itu anak pertama, insya allah suatu saat akan punya adik. Kalau kakak, kan haura ada kak Meru (kakak sepupu yg kebetulan sehari-hari mjd teman bermain dan tinggal di sebelah rumah kami). Tapi haura menjawab : "Gak mau! Aku maunya punya kakak sendiri, kakaknya haura!" Wah, putriku... kupeluk ia dan menghiburnya. "Sabar ya nak..". Aku teringat sudah beberapa waktu ini Haura selalu ribut minta adik. waktu di sekolah ada ibu yang menggendong bayi, ia menunjuk sambil berkata: "Umi. aku mau adik kepala botak". Waktu berkunjung ke panti asuhan balita di Cipayung, saat kami di ruang tidur bayi usia 1-1,5 tahun, Haura senang sekali, ia pikir ia datang kesitu untuk memilih adik untuk dibawa pulang. "Umi aku mau adik yang itu" Haduh.. anakku.. maafkan umi masih juga belum diberi kepercayaan lagi untuk memberimu adik.

Saya menyadari di usia 3 tahun, Haura tentu merasa sepi tinggal di rumah hanya bersama orangtuanya, belum ada adik yang menambah semarak rumah kami. Aura kekakakan dia memang sudah tumbuh, dia senang bermain dg bayi, mengajak mereka bercanda, seperti bermain cilukba, mencium, dst. Di rumahpun, dia suka bermain boneka dan memperlakukan mereka bak adik kecilnya, Haura suka memandikan mereka, memakaikan baju, membuatkan susu dan menyuapi mereka, persis seperti gaya saya sehari-hari bersamanya.

Betapa inginnya saya hamil lagi, tapi yang Maha Berkehendak masih belum mempercayakan saya lagi mengemban amanah-Nya. Waktu terus berjalan, saya juga tidak ber-KB, saya dan suami juga alhamdulillah sehat, tapi memang belum rizkinya. Yang dapat dilakukan adalah tetap bersabar, berusaha dan optimis. Insya Allah dg izin-Nya suatu saat nanti saya akan hamil juga. Doakan ya. Untuk ini saya tidak segan-segan meminta siapa saja mendoakan saya agar hamil lagi. saya yakin dg kesabaran, pasti akan berbuah juga. (Sabtu, 9 Agustus 2008, miladnya Meru ke-7 tahun)

PUISI DOUGLAS MALLOCK & SEMANGAT DLM MENJALANI HIDUP

"Jika kamu tidak bisa menjadi cemara di puncak bukit, jadilah belukar di lembah. Tapi, jadilah belukar kecil terbaik di tepi sungai. Jadilah sema, jika kamu tidak bisa menjadi pohon. Jika kamu tidak bisa menjadi semak, jadilah sejumput rumput dan membuat jalan lebih ceria. Jika kita tidak bisa menjadi ikan muskie, jadilah ikan bass paling lincah di danau. Kita semua tidak mungkin jadi kapten, kita harus jadi awak. Selalu ada sesuatu untuk kita disini. Ada hal besar dan kurang besar untuk dikerjakan. Dan tugas yang harus kita kerjakan adalah yg terdekat. Jika akmu tidak bisa menjadi matahari, jadilah bintang. Bukan ukuran yang membuatmu menang atau kalah. Apapun dirimu jadilah yg terbaik."

Subhanallah... Bukankah dg menghargai dan mensyukuri peran kita apapun itu, menjadi ibu rumahan, wanita bekerja, wanita single yang aktif, dst, tiap diri kita apa pun itu memiliki arti jika kita mampu memaknai dan menghayati peran kita, mampu mengoptimalkan diri, menjadi yang yg terbaik.
Seringkali kita sebagai ibu rumahan, yang kesehariaannya mengurus keluarga, jika kita tidak mensyukuri peran, kita akan mudah merasa "minder" atau down karena merasa tidak bisa berbuat banyak di luar, tidak bisa menghasilkan uang sendiri, dst. Padahal jika kita tahu bahwa mendidik anak-anak adalah tugas mulia, tentu kita akan berupaya sebaik-baiknya menjadi ibu yang terbaik. Ibu rumahan yg profesional, mampu memanajemen rumahtangganya, mengurus keluarga dan bisa memanfaatkan potensi dirinya.

Banyak orang (termasuk kita), yang masih setengah hati dalam melakukan pekerjaannya. Masih belum benar-benar menikmati peran yang dijalaninya. Yang bekerja, masih suka bermalas-malasan, sula terlambat dan menumpuk-numpuk pekerjaan, bekerja sekedar untuk mencari maisyah/penghasilan, sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup. Malas karena menganggap pekerjaannya kurang berarti dan tidak bergengsi. Yang ibu rumahan, malas menggali potensi dirinya sehingga malas berkarya, membiarkan dirinya stagnan dan tidak berkembang. Padahal kalau mau jujur,tidak ada pekerjaan yang benar-benar lebih tinggi dari yang lain, tidak ada pekerjaan yang lebih rendah dari yang lain. Semua pekerjaan begitu istimewa, karena semua jenis pekerjaan, apapun itu, selalu saja memberi kontribusi bagi keberlangsungan hidup ini. Kalau semua orang ingin menjadi eksekutif, tentu tidak akan ada nasi di rumah, karena tiada yang mau menjadi petani. Jadi teringat lagu jadul.."Tak kan ada ikan gurih di meja makan, tanpa ada jerih payah nelayan..." Jika semua wanita menjadi pekerja kantoran, tidak akan ada wanita yg mau tinggal di rumah mengurus keluarga. Jadi, cintailah hidup Anda dan jadilah yang terbaik yang dapat kita lakukan. Semua orang memiliki peran mereka masing-masing dan keberagaman itu lah yg membuat hidup ini indah dan penuh warna. Hargailah orang lain jika Anda ingin dihargai.

Menjadi yang terbaik dalam setiap apa pun peran kita akan membuat kita selalu bersemangat dalam menjalani hidup. Sebuah pepatah jerman yg artinya "Jika ada kemauan, pasti akan ada jalan keluar. Jika tidak ada kemauan, akan mencari-cari alasan." Betul banget kan? Seseorang yng memiliki tekad yang kuat, betapapun sulitnya jalan yg dilalui, ia akan terus berusaha. Sebaliknya, ketika kita tidak memiliki kemauan yg kuat dan kurang bersungguh-sungguh, kita pun akan sibuk mencari-cari alasan untuk pembenaran tindakan kita. Saat kita terjebak dalam beribu alasan kita tak kan pernah bisa menjadi yang terbaik. (Sabtu, 9 Agustus 2008)

Kamis, 07 Agustus 2008

HAURA BELAJAR SEKOLAH


Senin 14 Juli 2008, Haura mulai masuk playgroup di TK deket rumah. Sebenarnya udah sejak lama Haura minta sekolah sejak usianya 2 tahun, tapi saya menunggu sampai usianya cukup yakni usia 3 tahun.

Di hari pertama sekolah, Haura masih terlihat "takut", ia tidak mau ikut berbaris, hanya mau saat didampingi saya. Wah, saya membatin, jangan-jangan nanti saat di kelas juga demikian. Usai berbaris, saya masih mengantarnya Haura ke kelasnya, lalu saya bilang padanya kalau sekolah, Haura duduk bersama teman-teman tidak bersama umi. Saat saya keluar kelas, ia tidak menangis. Haura pun mulai belajar mengenal lingkungan kelasnya. Di luar kelas, saya masih mengamati putri kecil saya, saya ingin tahu apakah ia termasuk murid yg cepat beradaptasi atau perlu waktu lama. Alhmdulillah, ternyata di dalam kelas, Haura terlihat menikmati, ia aktif menjawab dan merespon kata-kata gurunya.

Hari berganti hari, tak terasa sudah hampir satu bulan Haura belajar sekolah. Waktu belajar Haura hanya 2 jam selama 3x 1 minggu (Senin, Rabu, Jum'at), sehingga Haura masih punya banyak waktu bermain di rumah dan beraktivitas. Saya tidak ingin di usianya yang masih belia, dia terbebani untuk sekolah. Saya memasukkan dia PG untuk Haura belajar bersosialisasi dengan teman sebayanya, bukan untuk membuatnya bisa membaca dst. Karena hal tsb sebenarnya bisa dilakukan di rumah. Sedangkan berteman dengan banyak anak itu yang sulit didapatkan Haura di lingkungan rumahnya. Di lingkungan rumah kami, yang sebaya dg Haura hanya 2 orang. Di PG dg 12 murid (7 anak perempuan dan 5 anak laki-laki), tentu dapat membuat Haura belajar mengenal karakter dan polah temannya yang berbeda-beda. Ada anak yang kalem, pendiam, pemalu, tergantung pada ibunya, ada juga anak yang tidak bisa diam, anak yang lincah, cerewet, mau tahu, dst.

Seperti juga orang dewasa, ternyata anak-anak juga senang bermain/berteman dg anak yang "mirip" dengan dirinya. Ini tentu bukan kesimpulan, hanya berdasarkan pengamatan saya yg subjektif. Putri saya, Haura termasuk anak yang tidak bisa diam, ingin tahu, cerewet tapi juga tidak mudah nyaman dg lingkungan baru. Dari 11 teman sekolahnya, Haura paling suka bermain dg Hanum, sama-sama anak yang aktif dan lincah. Walau begitu, namanya anak-anak, Haura juga tetap bermain dg teman yg lain. Tp jika ditanya siapa teman yg paling disukai pasti jawabnya Hanum. Padahal di antara para ibu, saya paling dekat dg ibunya Shafa, hehehe... Lain ibu, lain anak ya.. 

Yg paling menyenangkan saya, setiap hari sekolah, di pagi hari Haura selalu mudah dibangunkan, kadang dia sudah bangun pagi-pagi sekali, beda sekali dg hari-hari sebelum sekolah yang bangun tidurnya suka-suka dia dan kalau dibangunin suka ngambek. Sepertunya Haura semangat sekali sekolah.


Kamis, 24 Januari 2008

ANTARA AKU, KAU DAN DIA (2)

Hehehe... Lagi-lagi judul ini enak untuk jadi bahan orat-oret,tapi beda topik ya. Kemarin tentang selingkuh, sekarang tentang cinta dan hobi membaca. Nah lho, bingung ya, mending baca aja deh.

Berkisah tentang Aku, Kau dan Dia.

Aku, Wini Afiati, seorang ibu muda berusia 29 tahun (aduh ngomongin umur jadi berasa tua banget... sepuh...). Anak ke-2 dari 4 bersaudara. Sejak SD, hobi membaca, dulu apa aja suka dibaca, sekarang mungkin gak seheboh dulu, udah emak-emak kali yaa, sekarang malah seneng baca yang berkaitan dengan keluarga dan dunia anak, sesekali masih baca komik dan novel sieh, tapi sudah bisa dihitung jari. Mungkin juga karena udah gak koleksi lagi, dulu waktu SMU, maniak banget ama setiap novel thriller/suspence terbaru terbitan Gramedia,macam Mary Higgis Clark, John Grisham, Sidney Sheldon, Agatha Christy, dll. Dimana ada pesta buku diskon, dg jurus seribu kaki segera menuju kesana.Belum lagi koleksi komik dan maniak nonton anime Jepang. Tambah lagi, saat itu saya punya geng cewek yang maniak buku juga. Kadang kalo inget zaman itu suka geli sendiri, demi beli novel/komik terbaru, mesti irit dengan uang jajan yang terbatas,maka bela-belainlah bawa bekal makanan dari rumah, rajin puasa Senin-Kamis (walah demi uang jajan utuh sampai segitunya) dan kreatif setiap ada lomba di sekolah selalu ikut berpartisipasi, lumayan hadiah uangnya bisa dipakai nambah koleksi buku. Alhasil, saat SMU itu saya jadi langganan juara Lomba desain sticker, hehehe...

Saat kuliah dan mulai mengenal Islam, tiba-tiba saya disadarkan dengan fanatisme semu saya. Mulailah seluruh koleksi buku itu saya simpan rapi dalam kardus-kardus. Lama-lama daripada gak tahan godaan, koleksi novel itu saya jual murah ke Kakak saya yang juga hobi koleksi buku. Hiks, sedih tapi harus tega. Sejak itu,saya mulai beralih membeli buku-buku religi dan novel islami, namun kali ini gak semaniak dulu yang ampe bela-belain ngirit uang jajan. Biasa aja,kalo ada uang lebih beli, kalo gak, ya minjem.Dan perilaku tsb masih berjalan sampai sekarang. Makanya koleksi buku saya sekarang juga bisa dihitung alias gak terlalu banyak,hehehe...

Nah, sekarang tentang Kau, yakni my lovely husband.
Namanya, Damsir Besari Rumadiyanto. Namanya unik, sepintas mengingatkan kita pada nama orang Padang, padahal suami saya yang lahir di Jakarta, 17 Desember 1974, ayahnya orang Solo dan ibunya orang Dayak. Ibu mertua saya memang suka memberi nama yang unik untuk ke-4 anaknya yang kebetulan pria semua.

Bercerita tentang suami saya, jadi teringat saat ta’aruf dulu. Saat umi (my Murrobi or guru ngaji) menyodorkan sebuah CV seorang ikhwan yang tidak saya kenal, saya sempat bingung. Melihat wajahnya di foto, biasa aja. Saat bertemu waktu ta’aruf di rumah umi, juga biasa-biasa saja, no feeling special. Gak ada debar-debar aneh seperti saat saya naksir kakak kelas saya,hehehe...jadul,cerita lama. Saya shalat istikharah, dan entah kenapa saya merasa tenang-tenang aja. Proses berlanjut dari ta’aruf ke kunjungan suami ke keluarga saya,lalu khitbah dan menikah. Saat akad dan resepsi, walau duduk berdampingan, saya masih merasa biasa saja. Malamnya, saat berdua dengannya, saya baru sadar kalo saya belum jatuh cinta dengan suami saya, tapi walau begitu saya merasa bahagia bersamanya.

Waktu berjalan, dan hari berganti hari, tak terasa dalam dada mulai bergelayut sebuah rasa, dan saat saya sadar, rupanya saya telah jatuh cinta. Pagi itu sebuah sms tiba di ponsel saya, dari seorang sahabat waktu kuliah, "Hai Win, pkbr nieey?" dan saya jawab "Alhamd, baiiik bgt. Ternyata benar ya, kata pepatah yg bilang cinta itu bisa tumbuh setelah menikah. Dulu aku gak percaya, tapi ternyata itu terjadi jg sama aku. Hehehe..." Dan jauh di seberang pulau (kebetulan teman saya kerja di Balik Papan), sahabat saya tertawa geli.

Yang membuat saya mencintainya adalah karena ia adalah pria yang baik, sederhana dan penyayang anak-anak. Saya bisa melihat aura cintanya pada anak-anak, saat ia bermain dengan keponakan atau anak tetangga, pada para muridnya, dan kini pada putrinya. Selalu ada gelak tawa bahagia anak-anak, tanpa kepalsuan atau senyum dibuat-buat yang biasa kita lihat pada orang dewasa, begitu natural karena lahir dari dalam jiwa. That’s why he love being a teacher. Pekerjaan yang tidak menjanjikan materi, tapi memberikan kepuasan batin.

Suami saya juga orang yang senang membaca, walaupun jenis bukunya agak beda selera dengan saya, tapi ada juga yang beririsan (sama-sama suka), suami saya tidak begitu suka baca komik kecuali komik Detektif Conan dan New Kungfu Boy, yg juga saya suka. Suami jg biasa baca koran setiap hari, kalo ketinggalan alias gak baca sehari aja kayaknya gak enak, kadang saya suka jail dg menyebut si koran sbg istri keduanya, hehehe... Majalah yang dia suka juga kebanyakan yg berhubungan dg politik, tema yg sebenernya kurang kusuka, untukku sih paling baca kayak gitu untuk sekedar tahu aja, biar gak ketinggalan info,bukan karena interest. Tapi ternyata kita jadi bisa saling melengkapi, minimal koleksi buku dan majalah kita pas digabung gak banyak yang sama, kalopun ada yg kembar bisa dihitung jari,en yg kembar tsb jadi bisa dikasih orla.

Terakhir, tentang Dia.
Siapa dia? Pasti donk penghuni satu lagi di rumah mungil kami, siapa lagi kalo bukan si mungil Haura yang makin hari makin gemesin.

Nama lengkapnya, Haura Dzikriyyah, yg berarti wanita yang senantiasa mengingat Allah dalam setiap detak kehidupannya. Dg dzikirnya, ia menjadi seorang wanita yg cerdas dan sholihah. Aamiin. Namanya adalah doa kami, kedua orangtuanya.

Alhamdulillah, gadis kecilku ini yang lahir di sebuah klinik bersalin, hari Senin, 9 Mei 2005 ini tumbuh dengan sehat walafiat. Walaupun tubuhnya mungil, tapi tumbuh kembangnya baik, mulai dari motorik halus, kasar sampai perkembangan bahasa dan emosi alhamdulillah berjalan normal. Sekarang usia Haura menginjak 2,5 tahun, semakin banyak ketrampilan yang bisa ia kuasai. Kadang tingkahnya yang seperti orang gede membuat saya gemas. Ada-ada saja tingkahnya yang seringkali membuat saya terkaget-kaget,kok dia bisa berbuat itu ya, or bisa-bisanya dia memberi komentar yang lucu. Misalnya kejadian tadi siang, saat saya selesai mandi, dia mendekati saya, mengelus rambut saya sambil berkata: "umi cantik deh, udah mandi," hahaha...

Haura sangat senang bernyanyi, kayaknya setiap ada kesempatan, mulutnya itu gak pernah berhenti bersenandung. Sejak usia 1,5 tahun,Haura sudah pandai menyanyikan beberapa lagu anak-anak. Tapi beranjak besar, Haura mulai bosan dg lagu anak-anak, jadi dia mulai melirik lagu lain. Parahnya, lagu-lagu hit yang baru didengarnya sekali aja, udah bisa dia tiru, padahal lagu-lagu itu notabene lagu orang dewasa dan saya jarang banget menyetel lagu tsb (tentang ini pernah saya tulis di blog, judulnya "Keracunan Lagu Pop").

Selain menyanyi, Haura juga suka membaca (maksudnya minta dibacakan cerita) dan bermain susun puzzle dan lego. Saya perhatikan, putri saya ini terlihat cerdas di usianya (bukannya ge-er, hehehe...), tiap kali diberi mainan edukatif, awalnya dia ogah-ogahan, tapi lama-lama bisa bolak-balik memainkannya, eh tiba-tiba sudah berhasil. Seperti saat main puzzle, dia sudah bisa menyusun puzzle zigzag yang pecahannya cukup banyak tanpa dibantu. Sebagai ibu,saya tak mau memaksa putri saya harus bisa ini-itu, biarlah ia berkembang sesuai kemampuannya, sbg ortu, saya dan suami hanya memberi stimulus dan alat, selebihnya biarkan si kecil yg berkarya.
Tentang hobi membaca Haura, mungkin menular dari kedua orangtuanya yg suka membaca. Haura sangat senang dibacakan cerita, bahkan menjelang tidur pun selalu minta dibacakan cerita, kadang jika saya sudah ngantuk tapi masih kuat menahan kantuk, saya akan bacakan 1-2 cerita, tapi kalo benar-benar gak kuat terpaksa saya bujuk dia untuk membacakan cerita besok, ya kadang berhasil, kadang dia ngambek, hahaha...

Ya, beginilah kami, sebuah keluarga kecil, dengan tiga orang anggotanya. Aku, sang ibu. Kau, sang ayah. Dan Dia, sang putri. Antara Aku, Kau dan Dia. Mungkin akan ganti judul jika tambah personil baru di keluarga kami ini, tapi kapan ya sang penghuni baru muncul? hehehe... belum tahu jawabannya deh. Masih rahasia Illahi.
(Home Sweet Home, 20/01/08)

ANTARA AKU, KAU DAN DIA


Pasti udah nebak yang aneh-aneh deh, pas baca judulnya, hehehe..

Dari judulnya emang keliatan ya ada aroma "perselingkuhan". Eit,bukan tentang aku lho. Itu kan judul lagu yang saat ini masih hit. Sebelumnya juga banyak lagu-lagu bertema perselingkuhan yang jadi top hits, seperti lagu-lagunya Temen Tapi Mesranya-duo Ratu, Kekasih gelapnya-Ungu, Kamu Ketahuannya-Matta, Lelaki Cadangannya-T2, dll. Lagu-lagu tsb,entah kenapa iramanya begitu enak didengar tapi eiitt tunggu dulu,setelah didengar lebih jelas makna syairnya, ampuuunn deh, lagi-lagi tentang selingkuh. Kok selingkuh, bangga ya, karena dinyanyikan dg riang gembira. Saking banyaknya tema lagu seperti itu, masalah selingkuh yang seharusnya jadi momok menakutkan dan harus dihindari malah jadi tren biasa, hiiiyyy... Baru pacaran aja udah biasa selingkuh,gimana juga nanti setelah menikah? Mungkin akan seperti gaya para artis yang nikah-cerai-nikah-cerai, seakan-akan institusi pernikahan seperti mainan saja yang bisa dibuang jika sudah tak suka (tak lagi saling mencintai). Kebayang kan gimana bisa maju negeri ini jika dari lagu-lagunya aja tercermin kebobrokan moral, mengajak selingkuh, tidak setia pada pasangan, free sex, hobi dugem, dll.


Secara fitrah, Allah memang memberikan kita karunia untuk menyukai keindahan, baik secara kasat mata maupun yang melalui mata batin. Kita suka melihat pemandangan alam yang indah, keserasian berpakaian orang lain, suka mendengar irama lagu yang indah, suka berada di rumah yang rapi dan indah dipandang mata, dst. Allah juga memberi kita ketertarikan pada lawan jenis. Tentu fitrah, jika pria menyukai wanita cantik, begitu pula sebaliknya. Tapi dalam Islam, terdapat rambu-rambu yang harus dijaga terkait masalah hubungan lawan jenis. Ada batasan dimana rasa suka dan ketertarikan bisa berlanjut jika telah terjadi akad pernikahan, selebihnya tidak ada kamus pacaran sebelum menikah dalam Islam. Bukan berarti Islam itu kejam, namun itulah indahnya Islam, Islam menjaga sekuntum bunga tumbuh mekar menyebarkan aroma wangi yang indah pada saat yang tepat. Kesucian dan keindahan seorang wanita diberikan hanya untuk sang suami tercinta.


Pernikahan termasuk salah satu perjanjian yang berat kepada Allah, yang harus dapat kita pertanggungjawabkan pada Allah di yaumil akhir. Jika kita sungguh menjaganya, bagaimana mungkin kita tega menodainya dengan adanya affair/ perselingkuhan. Tidak peduli apa pun alasannya, seperti jika sejak awal kita belum tertarik/ mencintai pasangan kita, tapi saat kita sudah memutuskan untuk menikah dengannya, tak ada lagi yang lainnya (pria/wanita idaman lain). Belajarlah untuk mencintai dengan tulus apa yang telah kita dapatkan/ miliki. Selingkuh terjadi, awalnya mungkin karena iseng, tapi ada juga karena tidak terjaganya hubungan dengan lawan jenis, seperti biasa curhat, sering meluangkan waktu bersama, apakah sekedar makan siang berdua, pulang kerja bareng, dst. Lama-lama karena biasa berdua, kok merasa enak, cocok, akhirnya terjadilah hubungan lain, hubungan yang menuju kehancuran. Itulah sebabnya, Islam menyuruh kita untuk menjaga pandangan, menjaga agar jangan berdua-duaan saja dengan lawan jenis. Inget kan pepatah yang berbunyi: "dari mata jatuh ke hati", betul banget, semua memang berawal dari pandangan mata, lalu setan pun hinggap di hati, menebar cinta-cinta semu, dan terbuailah kita pada indahnya surga dunia.


Huaaa… jadi puyeng, ngomongin perselingkuhan. Yang pasti say NO to affair! Terus menjaga keharmonisan dengan pasangan, selalu membuat suasana baru yang membangkitkan cinta, terutama untuk pernikahan yang sudah berjalan lama dan juga terus jalin kedekatan pada Sang khalik, insya Allah godaan dunia akan mudah kita lalui. Hehehe, sotoy banget ya, kayak konsultan pernikahan aja, gapapa ya, kan sharing pikiran…


(Home Sweet Home, yang lagi nungguin Haura bangun tidur...20/1/08)

Selasa, 30 Oktober 2007

Bahagia Menjadi Diri sendiri!



Tiap kali bertemu kawan lama, kerabat mau pun kenalan baru, seringkali keluar pertanyaan klasik ini: “Aktivitas sekarang apa?”. Jika tahu latar belakang pendidikan saya yang lulusan sarjana S1 dari FTUI, mereka akan kembali berkomentar: “Wah, sayang dong susah-susah kuliah ilmunya gak dipakai…” Saya biasanya tersenyum dan menjawab: “Ya gak lha, ilmunya kan tetap bisa diterapkan di tempat lain, gak mesti harus dipraktekin melalui karier di luar rumah.”

Saya memang memilih berkarier di rumah, menjadi full time mother atau ibu rumah tangga. Saya ingin mendampingi anak-anak saya, apalagi di saat golden ages mereka. Jadi ilmu saya tetap terpakai untuk mendidik anak. Memang ilmunya gak saklek sama persis seperti didapat di bangku kuliah, saya kuliah di jurusan arsitektur. Malah mungkin beda banget dan saya harus belajar lagi dengan banyak membaca dari buku-buku dan majalah literatur, internet, maupun melalui pergaulan dengan para ibu yang sudah berpengalaman. Tapi yang pasti, tidak ada ilmu yang mubazir. Pasti ada perbedaan antara ibu yang berpendidikan dengan yang tidak, misalnya dalam hal pola pikir dan pola asuh. Di keluarga saya, hanya saya yang ibu rumah tangga, sedangkan saudara-saudara saya lainnya menjadi wanita karir, kecuali si bungsu yang masih kuliah.

Saat saya memutuskan berhenti bekerja, itu saya lakukan dengan sadar. Sadar akan konsekuensi yang akan saya dapat, seperti pendapatan keluarga saya akan berkurang karena dengan menjadi ibu rumahan otomatis saya akan bergantung dengan pendapatan suami saja. Cukup gak cukup, harus pandai-pandai mengatur keuangan agar jangan sampai terjadi besar pasak daripada tiang, dan saya mendapatkan banyak pelajaran di sini. Dulu waktu masih kerja, seringkali saya konsumtif (suka membeli barang yang sebenernya belum perlu, cuma karena suka, bosen dengan yang lama, dst). Setelah menjadi ibu rumahan, saya belajar menata prioritas, mana yang penting dan mana kebutuhan yang bisa ditunda. Awalnya berat juga, tapi seiring dengan berjalannya waktu, alhamdulillah keadaan baik-baik saja.

Saat saya menikah dan menjalani ritme baru dengan hidup mandiri (tidak lagi tinggal bersama orangtua), saya juga mendapat banyak pelajaran. Hidup saya berubah 180 derajat, dari yang gak pernah masak, cuci-setrika, sekarang harus mulai dilakukan sendiri. Alhamdulillah, suami saya begitu pengertian, dia tidak menuntut saya harus begini-begitu, apa yang bisa dia kerjakan sendiri ia akan mengerjakan, tanpa minta dilayani saya, malah karena ia begitu toleran, saya jadi terpacu untuk belajar. Dari dia, saya belajar masak dan mencuci. Dan akhirnya setelah pernikahan saya berjalan 6 bulan dan saya belum jua menunjukkan tanda-tanda hamil, saya memutuskan resign dari tempat kerja saya. Alhamdulillah, tak berapa lama kemudian saya positif hamil.

Saya memilih menjadi ibu rumahan karena saya mau, tidak ada permintaan apalagi paksaan dari suami atau siapa pun. Karena saya membutuhkan waktu untuk belajar menjadi istri dan ibu, jadi saya memutuskan untuk memiliki lebih banyak waktu di rumah, dan itu bisa saya dapatkan dengan berhenti kerja full time. Di rumah pun, saya masih sesekali mendapat order job freelance, seperti membuat skenario cerita anak, mengedit cerita, juga membuat desain brosur, kalender, melayout buku, dll.

Setelah menjadi ibu seorang putri, sempat ada keinginan untuk kembali berkarir, tapi hati ini kok rasanya tidak tega meninggalkan putri saya yang masih dalam tahap golden age pada pengasuhan orang lain, yang belum tentu “sepaham” dengan pola asuh orangtuanya, terutama saya selaku ibunya. Juga terbayang betapa letihnya jika saya menjalani peran ganda, menjadi ibu plus wanita karir. Wah, saya bukan super mom,yang punya energi ekstra untuk menghandle semua. Saya takut yang terjadi, adalah waktu saya lebih banyak habis untuk karir sedangkan untuk keluarga tinggal sisanya. Saya takut tiba-tiba menyadari putri saya sudah besar tanpa saya lihat bagaimana ia tumbuh, betapa mengerikannya. Lagipula tubuh saya juga gampang sakit jika kelelahan.

Tulisan saya ini bukan untuk mendiskreditkan wanita karir, sama sekali tidak. Banyak juga wanita karir yang berhasil dalam karirnya dan keluarganya baik-baik saja. Tapi banyak juga wanita karir yang menyesal di kemudian hari ketika menyadari ia telah kehilangan momen-momen indah bersama buah hati. Hidup adalah pilihan, dan tiap orang berhak memilih apa yang menurutnya terbaik untuk diri dan keluarganya. Setiap orang punya pilihan dan tujuan hidup masing-masing dan kita harus menghargai pilihan tiap orang. Don’t judge the book from it’s cover!
Pun saya memilih menjadi full time mother adalah hak saya, pilihan saya, dan tentunya menjadi kebahagiaan dan kebanggaan saya. Jika saya tidak bangga, saya akan jatuh minder. Tiap bertemu kawan yang sukses dalam karirnya, pasti akan merasa down (minder). I don’t want to be like that! I’m happy being me!

Dalam kehidupan nyata yang seringkali dipotret dalam film, banyak juga terjadi ibu-ibu rumahan yang merasa putus asa dengan hidupnya yang begitu-begitu saja, seperti yang digambarkan di film drama Desperate Housewife, misalnya. Rasanya jika tidak ingat dengan tujuan kita memilih menjadi ibu rumahan, bisa-bisa kita akan ikut-ikutan putus asa seperti ibu-ibu tsb. Yang membuat hidup kita bersemangat adalah always remember our goal, dengan keikhlasan yang menyertai, pengorbanan tidak akan tersa sebagai penderitaan. Jika kita masih merasakan beban yang bertumpuk-tumpuk, mungkin kita harus memperbarui niat dan keikhlasan kita. Memang menghadapi urusan rumah tidak ada habis-habisnya, membuat kita bosan/jenuh. Saat jenuh itu datang, maka berhentilah sejenak dari aktivitas kita itu, lakukanlah refreshing untuk menyegarkan dan merelakskan pikiran yang mumet dan tubuh yang letih. Refreshing bisa didapat dengan melakukan apa yang kita sukai seperti hobi.

Saya sebenarnya seorang yang tidak bisa diam, saat di rumah selain mengerjakan aktivitas rutin, saya juga menekuni hobi saya, dan itu menjadi refreshing saya dalam menghadapi rutinitas sehari-hari yang monoton. Saya sangat suka menulis tentang kehidupan sehari-hari, kadang saya menulis di blog atau di buku diary saya. Saya juga suka mendesain, surfing internet, membaca, main games, juga sesekali jalan-jalan ke luar, ke toko buku adalah favorit saya, juga ke tempat grosiran (murah meriah dapat banyak, hehehe…).Bermain dengan anak dan keponakan-keponakan juga refreshing bagi saya (kebetulan rumah saya berdekatan dengan rumah kakak), bahkan merubah suasana rumah/kamar juga bisa menghilangkan kebosanan. Bisa juga dengan menginap di rumah ortu, sekalian melapas kangen sama masakan nyokap, hehehe... Intinya, pandai-pandailah mencari alternatif pembunuh kebosanan, yang tiap orang bisa berbeda-beda caranya.

Hidup jadi simple jika kita tidak menuntut terlalu banyak. Sibuk melihat orang lain, sehingga lupa akan anugerah yang telah diberikan Allah pada kita. Kondisi hidup setiap orang berbeda-beda, begitu juga ujian yang diberikan Allah pada kita pasti sesuai dengan kadar kemampuan kita. Syukuri apa yang kita miliki, berikan yang terbaik yang dapat kita lakukan, dan terus berusaha menggapai harapan kita dengan mengikuti aturan-Nya. Hidup akan terasa tenang saat kita bahagia dengan apa yang kita miliki. Jika kita sibuk dengan membanding-bandingkan keadaan kita dengan orang lain yang dari segi ekonomi lebih baik misalnya, rasanya hidup kita sengsara terus, tidak akan merasa cukup. Selalu merasa kurang terus, karena terbiasa melihat ke atas. Kenapa gak enjoy aja dengan apa yang ada, dengan apa yang kita miliki, gak memaksakan diri di luar batas kemampuan, gak suka mengeluh pada suami yang hanya membuat kepalanya pening. Rizki yang diberikan Allah tidak hanya dalam bentuk materi, tapi juga kesehatan, pernikahan yang bahagia, anak yang sholeh, dst. Kalo sudah hidup berkecukupan tapi sakit-sakitan kan gak enak, juga jika rumah tangganya cekcok melulu, sekaya apa pun gak kan tenang hidupnya. Maunya sih, hidup berkecukupan, rumah tangga baik-baik saja, tubuh sehat, anak-anaknya lucu, pinter, sholeh, pokoknya segala keinginan terpenuhi. Tapi namanya hidup gak mungkin mulus-mulus aja, pasti ada ujiannya. Yang kelihatan sempurna secara kasat mata, pasti ada jua kekurangannya. Seperti seorang artis yang berkata ingin memiliki suami seganteng nabi Yusuf, sekaya dan sesukses nabi Sulaiman dan sehebat kepribadian Rasulullah Muhammad, waks… perfect banget, apa iya ada orang yang memenuhi seluruh kriteria tsb? Kalopun ada pasti yang mau juga banyak kan? Ukur juga diri kita, apa gak kayak punuk merindukan bulan, hehehe… Berusaha memang harus, tapi kalo maksain, ya enggak lha yaaa…

Hehehe, jadi ngomong ngalor ngidul, gpp ya sembari refreshing mumpung my little girl masih bobo, semalam dia ikutan bangun sahur, jadi udah siang gini blom juga bangun, enak deh ibunya jadi bisa menyalurkan aspirasi menulis, hohoho…

Udah dulu ah…ngantuuuk…

Kamis, 20 September 2007

REUNIAN TEMAN KULIAH


Setelah 5 tahun berlalu, usai lulus kuliah, semua mulai sibuk dengan dunia masing-masing. Lama berlalu, paling terdengar kabar teman telah begini- begitu. Yang masih bersilaturahim atau kontak via phone or sms bisa dihitung dengan jari. Sampai suatu hari, saat saya mulai ber-FS ria (ketinggalan zaman yaks, hehehe…) Soalnya sebelumnya my little girl masih bayi, ibunya jadi belum bisa “kemana-mana”, sekarang putriku sudah 2 tahun, dan aku juga mulai semakin bosen berdiam diri di rumah, mulai butuh sarana aktualisasi dan kesibukan baru di luar rutinitas ibu rumahan. Alhamdulillah juga ada kemudahan bisa nge-net hampir tiap hari, jadi aku mulai melanglang buana saat Haura tidur.

Back to FS, melihat foto-fot beberapa teman dengan kehidupannya saat ini. Yang mayoritas sudah menikah dan memiliki anak, entah kenapa menimbulkan rasa rindu ingin berjumpa. Akhirnya setelah kontak dengan seorang sahabat, mulailah kami menyusun rencana untuk mengadakan acara reunian kecil-kecilan, antar kita dulu. Mulailah saya meng-sms en kontak-kontak teman-teman akhwat FUSI’97, alhamdulillah hampir semua merespon positif pertemuan ini. Tempat yang dipilih adalah Pondok Laras, hari Ahad, 26 Agustus 2007, kumpul pukul 11.00 untuk makan siang bersama, acara reuninya memang di-set gak formal.

Alhamdulillah, acaranya lancar. Kami datang dengan membawa keluarga kami masing-masing, wah riuh en rame dengan bayi dan anak-anak balita yang gak bisa diam. Setelah tidak bertemu sekian lamanya, ternyata masih banyak teman yang penampilannya gak berubah walaupun ada juga yang agak berubah, tapi sifat dan karakter sih masih sama, masih pada bawel-bawel, eh yang kalem keibuan juga ada donk. Ya, begitulah indahnya menjalin ukhuwwah, dengan berbagai karakter tiap orang yang unik.

Subhanallah, rasanya rindu itu pun menemukan tempatnya. Terima kasih ya Rabb telah mempertemukan kami kembali dalam indahnya Islam. Walaupun juga ada cerita sedih tentang sahabat yang berubah 180 derajat setelah bekerja, at least temenku itu masih tetap memakai jilbab walau sudah keluar dari tarbiyah. Yah, begitulah hidup dengan berbagai pilihan, apa pun yang kita pilih saat ini, apa yang kita yakini baik untuk kita saat ini, semoga semua itu masih berada dalam naungan ridho-Nya. Semoga Allah senantiasa menjaga diri kita dan keluarga untuk tetap istiqomah di jalan-Nya sampai akhir hayat kelak, aamiin…

Selasa, 18 September 2007

ANAK SUSAH MAKAN


Siapa hayo ibu yang seneng anaknya susah makan atau picky eater (yang suka pilih-pilih makanan or maunya makan itu-itu aja) ??? pasti gak ada lha yaa...

Tanya juga gimana reaksi mereka manghadapi anak-anak tipe tsb. Kayaknya saat makan menjadi "perang" ibu dg sepiring makanan dengan sang anak, dari aksi menutup mulut rapat-rapat ataow kalopun berhasil makanan masuk ke mulut dg sukses pula disembur/dimuntahin lagi, atau anak yg harus kejar-kejaran dulu kalo makan, sekalian sang ibu jadi olahraga deh, hehehe.. kalo waktu nulis sih bisa ketawa-ketawa, tapi kalo lagi saat ini menghadapi adegan itu, walah-walah, benar-benar menguji kesabaran banget gak sieh??? apalagi jika proses makan yang ngabisin waktu berjam-jam, gimana gak stres kan?

Biasanya utk mengatasi problem anak seperti ini, kuncinya adalah SABAR, bersabar dalam menghadapi polah anak dan terus berusaha mencari cara agar anak menyenangi acara makan dan makan menjadi momok yang menyenangkan untuk anak. Begitu nasihat yang saya dapat dari dokter atau dari literatur buku, dll.

Pada kenyataannya menjadi sabar, benar-benar butuh proses dan perjuangan yang panjang, yang kadang melelahkan, apalagi jika pola makan anak sama sekali tak kunjung berubah.

Saya sendiri termasuk ibu yang pusing dengan pola makan putri saya ini.
Pada awalnya putri saya waktu bayi masih mudah disuapin, namun semakin bertambah usia dan semakin bertambah kepintaran dan kebisaannya, sejak usia 9 bulan-an, dia mulai sulit makan. Walhasil berbagai cara telah saya coba, mulai dari mengajaknya bermain sambil menyuapi makan, makan sambil mendengarkan musik riang, mengajak jalan-jalan, membacakan cerita ttg anak yang suka makan, mencoba variasi makanan, dan makan bersama-sama, tapi sampai saat ini di usia 2 tahun, putri saya masih tetap bermasalah dalam pola makannya. Haura hanya makan dengan porsi sedikit, setelah itu menolak makan.

Rasanya stres sekali setiap kali ditanya orang berapa beratnya sekarang, atau saat kontrol ke dokter dan dokter akan menasehati saya panjang lebar tentang bagaimana membuat suasana makan menyenangkan, dst, dan biasanya putri saya akan diberi tambahan vitamin.

Sampai-sampai saya pernah mengalami puncak stres sehingga mudah sekali menangis dan sensitif dengan komentar orla. Tapi lambat laun saya belajar, apa pun komentar orla tidak terlalu saya pusingkan. Seperti kata-kata orla yg suka membanding-bandingkan tubuh montok anaknya dengan putri saya. Alhamdulillah seiring waktu, nafsu makan putri saya mulai membaik, walau masih mengikuti moodnya. kadang makannya bisa banyak, kadang masih susah. Tidak apa-apa makan sedikit tetapi frekuensinya lebih sering.

Sejauh ini, putri saya termasuk anak yang jarang sakit, walaupun tubuhnya mungil, dia lincah, ceria dan cerdas. saya selalu mengamati tumbuh kembangnya, dan alhamdulillah perkembangan motorik halus dan kasar Haura berjalan baik, perkembangan bicara maupun emosinya juga tidak ada masalah. Haura bisa duduk dan berdiri sendiri di usia 6 bulan, bisa berjalan lancar di usia 12 bulan, mulai cerewet dan pandai menyanyikan lagu anak-anak di usia 18 bulan, di usia 20 bulan sudah bisa berhitung 1-10, bisa memasukkan aneka bentuk ke tempatnya. Di usia 2 tahun, semakin banyak yang ia kuasai, Haura sudah bisa melepas dan memakai baju, celana, kaos kaki dan sepatunya tanpa dibantu, bisa menyusun puzzle zigzag empat kotak sendiri, bisa ngobrol di telpon, dan pandai meniru apa pun yang ia suka terutama aktivitas sehari-hari saya, seperti menyapu, membuatkan susu, dll.

Sebenarnya dari literatur yang saya baca, problem makan anak seperti picky eater ini wajar terjadi di usia 1-3 tahun. Menurut psikolog, hal tsb mrpkn tahapan perkembangan anak yang tjd bersamaan dengan perkembangan egonya. Bisa jadi anak yang picky eater, ortunya jg termasuk orang yg pilih-pilih makanan, sehingga tanpa sadar anak menirunya.

Saya jadi ingat putri saya lagi, di balik sikap menolak makannya (makan yg dimaksud adalah makan utama), sebenarnya ia bukannya tidak mau makan sama sekali. Sejak usia 1 tahun, dia hanya mau makan dengan caranya sendiri. Hanya saja karena ketrampilan makannya belum sempurna, untuk menyendok makanan saja dari piring masih lebih banyak yang jatuh apalagi setelah masuk ke mulutnya, sedangkan yang masuk ke mulutnya cuma sedikit yang tersisa. Makanan yang berserakan di lantai, kadang dengan polos dipungutnya makanan tsb, dan hup masuklah ke dalam mulutnya. Belum lagi jika muncul daya eksplorasinya melihat makanan yang berceceran tsb, malah asyik dimain-mainkannya, sehingga lupa dengan acara makannya. Menemani proses belajar makan anak juga menuntut lagi-lagi kesabaran ibu. Kadang saya suka tidak tahan, ingin menyuapi saja, daripada makanan terbuang-buang, tapi putri saya selalu marah jika "diganggu" saya, dan saya pun akhirnya mengalah dengan membiarkan ia makan dengan caranya sendiri. Usai makan, putri saya akan berlari ke kamar mandi minta dicuci tangannya, dan itu artinya dia tidak mau meneruskan makannya, dan akhirnya saya memberinya susu untuk tambahan gizinya. Putri saya hampir tak pernah makan sayur yang saya berikan, hanya nasi dan lauknya saja. Ini memang masih jadi pe-er saya, sebenernya saya sendiri dari kecil kurang suka makan sayur, ternyata kebiasaan buruk ini "menular" ke putri saya. Wah, bagaimana ini... padahal sejak hamil, saya sudah memaksakan diri selalu makan sayur, dan sampai saat ini pun saya selau makan sayur saat makan bersama putri saya.

Satu lagi, putri saya juga suka mengemil, walaupun juga dalam porsi yang sedikit. Saat ini saya masih belum sempat berkreasi membuat cemilan-cemilan lucu, sedangkan Haura mulai bosan dengan biskuit/kue/krakers yg instan yang mudah dibeli tanpa saya susah-susah payah memasaknya. Setelah memiliki anak, seorang ibu ternyata harus "pandai" berkreasi dengan masakan en cemilan sehat utk anak, hiks... saya sebenernya orang yang malas masak...

Lagi-lagi dapet saran en nasehat dari psikolog, agar ibu tidak sakit hati dan patah semangat, karena sudah capek-capek membuat masakan tapi kemudian tidak dimakan anak. Jadikan hal itu sebagai tantangan untuk lebih kreatif lagi menyajikan menu yang bervariasi dan makanan yang bisa menggugah selera anak. So, semangat euiyyy... Ayo, ke dapur, bu!!!

Ini ada 10 taktik jitu hadapi anak susah makan (sumber: majalah ayahbunda, no.10/2007)
1. Nampan aneka warna
Sajikan aneka jenis potongan kecil buah, camilan, kue, dll di atas nampan yang menarik
2. Dicelupkan, ini salah satu favorit anak.
Misalnya biskuit dicelupkan dulu ke susu sebelum masuk mulut
3. Dioleskan
Oleskan sesuatu lebih dulu di atas permukaan makanan. Misal ajarkan anak mengoleskan mentega/ selai kacang/ selai buah di atas selembar roti, biskuit/ krakers.
4. Sedotan
Ajaklah si kecil membuat aneka smoothies, jus buah campur susu atau wheep cream, serta sajikan dg sedotan. Bunyi sruput sedotan menimbulkan sensai yg mambuat anak bersemangat.
5. Mini is more
Potong aneka makanan dalam berbagai bentuk yg menarik dan berukuran mini. Misal sandwich mini dg bentuk segitiga atau segiempat, diberi hiasan tusuk gigi berbendera.
6. Dihias
Setiap anak yang tidak suka makan sekali pun, pasti tergiur mencicipi ketika melihat makanan yang dihias menarik
7. Santap bersama
Ajaklah anak-anak teman anda atau keponakan (apalagi yang doyan makan) menemani sio kecil makan. Biasanya cara ini akan mengubah sikap si kecil yang suka pilih-pilih makanan.
8. Berikan dengan porsi kecil, karena lambungnya masih kecil
9. Libatkan memasak
Mulai dari proses belanja, persiapan hingga penyajian. Dia kan lebih berselera mencicipi hasil karyanya sendiri.
10. Ubah menu
Misal. nasi goreng yang semula untuk sarapan ditukar dengan menu makan malam, yang penting kebutuhan kalorinya terpenuhi.

Dari 10 tips tsb, yg paling berhasil pada putri saya adalah yg poin ke-7 (santap bersama). Setiap kali makan bareng sepupu atau teman main, Haura bisa lahap dan banyak makannya, sayangnya makan bersama ini gak bisa 3x sehari, paling pas makan siang, tapi gpp dech, yang penting terus semangat mencari cara agar si kecil doyan makan. semangat euiiyyy...

Minggu, 09 September 2007

KERACUNAN LAGU POP


Sejak kecil, saya memang suka menyanyi, dan mencapai puncaknya saat smp-smu, dimana tiada hari tanpa musik menemani hari-hari saya. Sambil membaca buku, atow belajar bahkan saat dapet tugas mencuci piring, alunan lagu pasti menemani. Mulut pun asyik mengikuti syair yang dinyanyikan sang penyanyi, mo di kamar ampe kamar mandi sok pede aja nyanyi, padahal yg denger paling udah pada pengen pingsan kali ya.

Saat itu, di era tahun 90-an, saya sangat suka lagu-lagu heavy metalnya Helloween, Jon Bon Jovi, Skid Row, Metallica, dll, yah agak terpengaruh kakakku yg tidur sekamar sieh. Lagu klasik rock macam The Police ampe yg nge-punk seperti Nirvana, Greenday jg suka berat. Musik yg paling saya benci tentu aja dangdut dan disco. Cita-cita saya saat smp, kalo masuk smu mau jadi anak band. Walhasil ketika jd anak baru di smu 28 ragunan, saya sempet mau masuk ekskul Unit Kesenian (UK), eh batal, gara-gara malu pas orientasi kok suaraku yg paling fals. Walhasil, mundur teraturlah aku dari UK krn minder, hehehe...

Setelah belajar mengenal Islam saat kuliah, kesuakaan saya terhadap musik mulai bergeser, saya mulai suka mendengarkan lagu-lagu religius atau nasyid, terutama Snada, Raihan, Bimbo, Izzis, dll.

Waktu masuk dunia kerja, dan seruangan dengan para bapak yang hobi download lagu2 terbaru untuk koleksi MP3nya. Waktu itu pak Ivanosky emang paling hobi ngoleksi berbagai jenis musik, en koleksi lagunya buanyak banget, yang bikin saya tergoda juga pengen dengerin. Apalagi pak Ivan en dwight juga mbak asih begitu getol membangkitkan memory nostalgia saya terhadap lagu-lagu favorit era tahun 90-an itu, back to jadul dech. Walhasil terbiasalah saya mendengarkan lagu-lagu lama, menemani stres dikejar deadline.

Setelah menikah dan berhenti kerja, dan belajar hidup mandiri lepas dari ortu. Kebetulan komputer rmh gak ngedukung utk saya ngedengerin musik. Yang saya punya cuma kaset-kaset nasyid. Alhamdulillah, jadi berkurang godaan duniawi, hehehe... Walaupun kadang masih suka "nyuri-nyuri" lewat klip di MTV or Global TV, tp jarang banget, jarang nonton TV juga sih, sibuk ngurus rumah, en saat hamil juga lagi seneng2nya baca buku-buku parenting, yg berhubungan dengan ngurus bayi.

Kini putri saya sudah berusia 2 tahun. Dan ternyata dia juga anak yang sangat suka menyanyi. Di usia 18 bulan, Haura sudah pandai meniru lagu-lagu anak-anak yang sering didengarnya melalui CD ataupun melalui nyanyian saya sejak dia bayi, saat menemani dia bermain, saat mandi, saat sebelum tidur serta saat membacakan cerita jika saya menemukan objek yang sesuai dengan lagu, saya spontan menyanyi. Walau dengan suara fals, menurut buku yg saya baca, ibu atau ortu tidak perlu minder, tetap pede, karena alunan lagu yg keluar dari hati akan memberi efek kebahagiaan pada anak. Anak tumbuh menjadi anak yang ceria dan periang.

Alhamdulillah, putri saya memang tumbuh menjadi anak yang ceria, lincah dan mandiri. Di usianya sekarang semakin banyak lagu yang bisa dinyanyikannya. Sayangnya, pengaruh lingkungan juga turut memberi dampak terhadap putri saya. Sehari-hari Haura biasa bermain dengan sepupunya (kak Meru) yang usianya terpaut 4 tahun dari Haura. Di sekolah, kak Meru terbiasa mendengar lagu-lagu pop yang sedang hit saat ini, dan hal itu terbawa ke rumah. Dan Haura pun yang sedang senang meniru juga ikut-ikutan suka dengan semua lagu yang disukai kak Meru. Walhasil di usia 2 tahun, Haura sudah bisa menynyikan lagu Surga-Mu, Andai Kau Tahu-nya band Ungu, lalu berlanjut ke lagu2 Nidji, semacam Kau dan Aku, I'm Child, Disco Lazy Time, jg Letto dg Ruang Rindunya. Dan sekarang Haura jg suka menyanyikan lagu Linkin Park "What I've Done" dan Bersama Bintangnya band baru Drive.
Waksss.... Pussiiiiiiiiiiiinggggggggg.....

Apa yang harus saya lakukan dengan racun-racun lagu ini. Semakin hari semakin bertambah saja lagu-lagu yang sebenarnya belum pantas untuk anak usia 2 tahun. Memang saat anak kecil menyanyi, lucu dan gemesin banget melihatnya, tapi lama-lama hati ini miris sekali. Aduh, putri saya kan belum mengerti arti apalagi makna dalam lirik yang dinyanyikan itu. Saya merasa amat bersalah, bagaimana pun juga semua ini terjadi juga karena andil saya juga, membiarkan dia mendengarkan lagu tsb saat bermain di rumah kak Meru, kadang saya juga suka khilaf bersenandung di rumah, aduh rasanya sedih sekali. Menjadi ibu yang baik itu ternyata sulit banget. Tanpa sadar, saya sering memberi contoh yang kurang baik.

Waah, apa yang harus aku lakukan???????

Kamis, 06 September 2007

HAURA SAYANG BUNDA


Suatu hari yang cerah, sama seperti hari-hari biasa, setiap pagi saya mulai disibukkan rutinitas bersih-bersih rumah dan memasak, setelah sarapan pagi.

Pagi itu saat saya sedang meracik bumbu masakan, putri saya, haura yang berusia 2 tahun, datang menghampiri saya. terbersit dalam pikiran saya, pasti seperti biasanya akan mulai "mengganggu" aktivitas saya.

Putri saya duduk manis di samping saya yang sedang mengupas bawang merah.
Haura : "Ini apa, mah?" (sambil menunjuk bawang merah)
Bunda : "Oh, ini bawang merah." (saya mulai membatin, pasti setelah ini dia akan ikut-ikutan mengupas bawang dengan pisau mainannya)
Haura : "ini apa?"
Bunda : "itu bawang putih"
Haura berlari menuju pojok mainannya. Di pojok itu ada sebuah meja dan dua kursi mungil, serta box berisi mainannya, termasuk peralatan masakannya.

Haura sibuk mencari sesuatu dalam box
Haura : "Manaaa pisauku?"
(Bunda membatin, wah.. mulai deh..)

Haura datang dengan membawa pisau mainannya, duduk manis lagi di samping saya, tangannya mengambil bawang merah.
Bunda : "Nak, kupasnya yang bawang putih saja. Kalo bawang merah nanti mata kamu perih, keluar airmata." (saya berusaha menjelaskan alasan pilihan saya)
Haura : "Ooh..." (sambil melepas bawang merah dan mengambil bawang putih dari keranjang bumbu)

Haura pun asyik mengupas bawang putihnya, sambil melirik cara saya mengupas. Tapi karena pisau Haura hanya mainan, Haura tidak berhasil mengupas bawangnya. bawang tsb malah jatuh dan menggelinding di lantai.

Merasa lucu dengan apa yang dilihatnya, haura lupa akan keinginannya mengupas bawang. haura mengambilk bawang-bawang lainnya dan mulai menggelindingkannya denga pisau mainannya. Ia tertawa-tawa geli melihat aksinya sendiri.
Bunda : "Hayoo, Haura. Bawangnya ditaruh lagi kesini ya" (menunjuk keranjang bumbu)

Haura masih asyik menggelindingkan bawang-bawang seakan-akan bermain golf mini. Tiba-tiba ia datang menghampiriku lagi. Kupikir ia akan mengembalikan bawang-bawang tadi. Kepalanya yang mungil dijulurkan ke arahku dan tiba-tiba saja, Haura mengucapkan kata-kata yang mengejutkan.
Haura : "Mah, Uwa (Sebutan Haura krn ia masih cadel) sayang mah..."
Deggg! Byuurr... Rasanya baru kali ini saya merasakan sensasi yang luar biasa dari seuntai kalimat yang dilontarkan putri kecil saya.

Di usianya yang baru 2 tahun, ia sudah bisa belajar mengucapkan kata cinta.
Haru menyeruak di hati saya, begitu dalam.
lalu saya peluk putri kecil saya ini,
Bunda :" terima kasih ya nak..."
Putri saya pun berlari ke pojok mainannya dan mulai asyik bermain masak-masakan, meninggalkan saya yang masih terpesona dengan lontaran spontan putri kecilku.

Ya Allah, betapa bahagianya saya.
Mungkin saya terlalu sentimentil. Tapi rasanya setiap ibu mungkin akan merasakan sama seperti apa yang saya rasakan saat ini.

Duh, hari itu saya sangat bersemangat menjalani hari. Hatiku dipenuhi bunga-bunga cinta.
Nanti saat suami pulang kerja, saya akan mengucapkan rasa sayang saya padanya, hehehe... Belajar mengucapkan cinta dari seorang anak usia 2 tahun, rasanya gak salah juga kan? hmmm....

(Home sweet home, 7 September 2007)