Tampilkan postingan dengan label Haura. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Haura. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Juli 2009

BELAJAR DARI ANAK

Sabtu subuh, saya merasa perasaan yg tidak enak, smlm memang saya tidak nyenyak tidur, akhirnya saya telpon hp suami, dia sedang menjaga ibunya yg sedang koma di RS. Saat saya telpon, ternyata ibu mertua sdh dipanggil yg Maha Kuasa setelah suami selesai sholat shubuh... Lalu, saya pun siap2 untuk mengikuti prosesi pemakaman mbah putri. Haura saya bangunkan, mandi dan sarapan, lalu berangkat bersama kakak krmh ibu mertua. Haura bertanya kita mau kemana ummi? saya jwb, mbah meninggal nak, mbah mau bertemu Allah. Dia terlihat manggut2 saja, entah mengerti atau tidak.

Layaknya seorang gadis kecil berusia 4 thn, Haura selalu ceria, ingin tahu dan tidak bisa diam (lincah). Saat melihat mbah yg terbujur kaku, Haura malah minta melihat wajah mbah, tanpa rasa takut, dia bergumam, "Hmm... mbah kok wajahnya putih ya?" lalu dia sibuk mengamati wajah mbahnya.

Saat, pemakaman, br turun dari mobil, dia berkata, "Wah, kita di kuburan. Jadi lupa-lupa ingat nieh..." Haura memang lg suka band Kuburan yg membawakan lagi hits Lupa-lupa Ingat. Sepanjang perjalanan, ada2 aja ocehannya, apa yg dia liat selalu dikomentari, kalo dia penasaran, selalu bertanya pd saya. Saat dia melihat ayahnya berada di lubang kuburan utk memasukkan jenazah mbah, dia panik, "ummi... Ayah nanti naiknya bagaimana, itu kan dalem?" lalu dia berdiri paling depan, melongok ke dalam lubang, memperhatikan dg seksama dan mulutnya pun tak bs berhenti mengoceh atau bertanya, seperti, kenapa tanahnya harus dibulet-buletin dulu? kenapa pake bambu? knp mbah dipenjara? (dia menganggap mbahnya itu dimasukan lubang seperti di penjara, krn ukuran lubang yg sempit dan di sekelilingnya ada tonggak2 bambu. Kenapa harus ditaburin bunga? Dst, dst, apapun selalu menarik bagi gadis kecilku ini.

Menyaksikan momen mbah putrinya meninggal, yg bagi orang dewasa sangat menyedihkan, baginya adalah suatu pengalaman baru. Dia bisa menceritakan kembali kpd temannya bgm dia "mengantar" mbah putrinya dg gayanya yg ceria, khas anak2.

Putri kecil saya ini, selalu terlihat bahagia, ceria, tanpa ada beban. Suatu hari, dia bercerita pd saya, bahwa ia ingin menjadi orang kaya. Wah, dari mana kosakata itu, saya jadi tergelitik utk bertanya lebih jauh.
Haura : Ummi, aku mau jadi orang kaya, ah.
Ummi : Hmm... memangnya orang kaya itu apa?
Haura : itu lho, yg rumahnya tingkat, ada tangganya, punya mobil, ada kolam renangnya, kamarnya ada gambar putri, bagus deh... aku mau, ummi
Ummi : Ooh, gitu... Kalo gitu, Haura rajin berdoa, minta sama Allah ya biar jadi orang kaya.
Haura : Iya.
Hmm, saya jadi berpikir, kapan ya dia mulai mencerna sesuatu yg dia lihat, mulai menginginkan dan mengkhayalkan sesuatu.

Saat, Haura saya ajak menjenguk sepupu yg melahirkan, saat melihat bayi mungil, dia senang sekali. Dia pun berkata, "ummi, cepetan donk, adikku lahir..." hehe... sabar ya nak, nanti bulan desember ummi baru melahirkan.

Saat saya sedang bete dan jenuh dg rutinitas, melihat Haura dg segala polahnya seperti obat mujarab bagi saya. Melihatnya semakin besar, semakin banyak hal2 yg menakjubkan, saya tidak menyesal memilih menjadi ibu rumahan...

Ah, gadis kecilku...
Teringat kata seorang teman, bahwa orang dewasa pun bisa belajar dari anaknya.
Betapa indahnya dunia dalam alam berpikir anak-anak.
Begitu jujur, polos dan indah.

Ajari, ummi ya nak...
Bantu ummi belajar menjadi ibu yg baik untukmu...

Sabtu, 11 Juli 2009

Semangat Dalam Menjalani Hidup!



Ini tulisan note di fesbuk... ditulis tgl 21 Juni 2009,
to remind me...how much i love my little girl...

Minggu pagi yg cerah, Haura blom jg bangun.
Setelah menyelesaikan pekerjaan rumah di pagi hari, waktunya utk sedikit orat-oret...

Dua minggu ini bener2 ujian, dg sakit yg mendera. Gangguan khas kehamilan msh sedikit terasa, mual2 dan rasa mudah lelah, lalu kena sembelit, yg berakhir dg hepi end (dg perjuangan setiap hr makan pepaya, omg, biasanya ini buah yg paling kujauhin, tp demi sehat, kunyah telan, glek, beres kok...),alhmd sembelit hilang, lalu dtglah radang tenggorokan (tiap mlm batuk2 berkepanjangan, perut sakit dan yg pasti gak nyenyak tidur..), utk yg ini saya pun harus ke dokter,alhmd sdh membaik, tp krn kondisi msh lemah,datanglah dg manisnya si pilek yg membuat idung mampet selama 3 hr, subhanalloh...bersamaan dg itu saya salah posisi tidur yg berakhir dg kram punggung... Hahaha...sungguh hari-hari perjuangan...

Alhamdulillah, Haura si 4 thn ini sangat pengertian. Di usianya, dia bisa berempati terhadap ibunya. Saat ibunya muntah2, dia sangat sigap mengambilkan umminya tissue dan segelas air putih, subhanallah... Lalu saat ibunya pegal2 dan sulit bangun dari posisi duduk ke posisi berdiri,dia pun sigap membantu saya berdiri (pdhl dg tenaganya,dia tak cukup kuat menarik saya, tp saya menghargai usahanya, dan mengucapkan terimakasih atas bantuannya). lalu saat saya duduk, dia memijiti punggungku dg tangan2 mungilnya, "bgmn ummi, enak? ujarnya polos, lalu kujawab: "iya sayang, trmksh..." duh haru bgt...SUBHANALLAH...

Betapa anak adalah karunia terindah.
Terimaksih Allah telah KAU titipkan seorang gadis kecil yg manis dalam hidupku...
Ia yg memberiku semangat dalam menjalani hidup...

Kemarin, saat tiba di sekolah, Haura mendapat piala karena menjadi juara 2 di kelas, yg mjd juara 1 adalah teman sebangku dan gadis kecil yg mjd sahabat haura di sekolah. Masalahnya bukan mendapat piala atau juara yg menyenangkan hati saya, tp karena ternyata Haura bahagia sekolah. Dia menikmatinya. Kemarin waktu libur beberapa hari sebelum bagi rapor, dia bertanya:"ummi, kenapa sih Haura gak sekolah-sekolah?" lalu kujawab krn sdg libur sekolahnya. "Wah, aku bosen.. mau sekolah.." Wah,setelah bagi rapor ini,benar2 libur panjang (satu bulan...), kudu kreatif agar Haura gak bosen nieehhh...

Oh Haura, i love u, nak...
Maafkan ummi yg blom kreatif...
Maafkan ummi jika masih blom menjadi ibu yg baik utkmu...

Mengutip tulisan teman,
"Ibu yang baik adalah ibu yang membiarkan dirinya menjadi pribadi yg tumbuh seiring dg tumbuhnya sang anak."
Smg bisa ya...

Selasa, 10 Februari 2009

GADIS KECILKU, HAURA…


Bercerita tentang Haura memang tidak ada habis-habisnya. Gadis kecilku sekarang berusia 3,5 tahun, tidak terasa waktu berjalan, rasanya masih lekat dalam ingatan, saat-saat baru melahirkannya. Saat pertama kali melihat dia dalam pelukan, dg pipi tembem, wajah hitam manis dan rambutnya yg lebat. Wajah Haura bagaikan pinang di belah dua dengan ayahnya, namun semakin besar tingkahnya lebih mirip saya ketika masih kecil dulu, lincah, centil, ingin tahu dan sok tahu, hehehe…

Haura… gadis kecilku ini adalah anugerah terindah yang dititipkan Allah untukku. Rasanya hidupku saat ini berpusat padanya. Menyenangkan sekali bisa melihatnya tumbuh berkembang dari hari ke hari. Mungkin itu salah satu keuntungan menjadi ibu rumahan, yang banyak waktu di rumah, yang menjadi orang pertama yang tahu apa saja yang terjadi dengan anaknya. Saat pertama kali ia mengucapkan kata, saat ia bisa duduk sendiri, saat pertama kali ia melangkahkan kaki-kaki mungilnya, dst. Saya bahagia menjadi orang yang selalu ada di dekatnya.

Haura… Gadis kecilku ini adalah cahaya kebahagiaanku. Bersamanya membuat hidupku lebih bermakna. Di usia menjelang 4 tahun ini, ia suka bercerita tentang segala hal yang baru ia alami, ia inginkan ataupun yang ia sukai. Segala hal menjadi istimewa dan menarik baginya. Saya suka menahan geli, jika mendengar doa-doanya yg polos, lucu dan ada-ada saja. Begitu indah dan simplenya dunia yg ada dalam pikiran anak2. Membuatku belajar untuk tidak memaksakan kehendak, walau kenyataannya tanpa sadar kita suka menuntut anak seperti gambaran yg kita inginkan/pikirkan. Maafkan umi ya nak…

Haura… Ada-ada saja tingkah polahnya yang bagi saya seorang ibu muda selalu mengagumkan. Mulai dari tingkahnya yang lucu, curious, sok tahu bahkan sampai yang nyebelin sekalipun, seperti saat dia sedang ngambek, rewel, kolokan dan tidak mau berbagi. Bagaimanapun nakalnya ia hari itu, pandanglah wajahnya saat ia terlelap, duh… begitu sejuk dan menentramkan hati.

Thank You Allah, Alhamdulillah…

Terimakasih Allah yg telah memberikanku seorang suami yg baik dan seorang putri yg menyenangkan hati. I’m Happy being a mom…

Selasa, 27 Januari 2009

PILIH-PILIH SEKOLAH ANAK


Sebagai seorang ibu, wajar jika kita ingin memberikan yang terbaik untuk sang buah hati. Tapi kadangkala keinginan dan harapan harus juga sebanding dengan kebutuhan dan kemampuan. Jangan sampai hanya karena memenuhi ambisi sang ibu, anak menjadi korban, karena terpaksa/dipaksa melakukan sesuatu yang telah dipilih orangtuanya.

Waktu Haura berusia 2 tahun lebih, dia sudah ingin sekali sekolah. Tiap kali melewati TK dekat rumah, atau sedang melintas melewati TK yang lain, dia akan berucap, ”Itu sekolahku ya mi…”. Sampai-sampai saya tidak tega dan berjanji padanya “Iya nak, nanti kalo Haura sudah 3 tahun ya baru sekolah.” Maka ketika Haura sudah berusia 3 tahun, mulailah ia sekolah playgroup di dekat rumah. Selain Haura sendiri yang memiliki keinginan untuk sekolah, saya pikir hal ini juga baik untuknya belajar bersosialisasi dg teman2 sebayanya.

Saya pribadi memang tidak ingin membebaninya dg sekolah, saya ingin putri saya bahagia tanpa banyak tuntutan dari kami orangtuanya, saya ingin dia menjadi pribadi yang mandiri dan percaya diri. Banyak ibu yg ingin menyekolahkan anaknya agar cepat bisa membaca dan menulis di usia dini, padahal tidak semua anak bisa begitu. Setiap anak punya kecerdasan mereka masing2. Bisa jadi kakak beradik pun tidak sama kecerdasannya, kalo sang kakak bisa membaca di usia 3 thn, dan si adik di usia yg sama tidak terlalu ‘ngeh’ dg huruf2 alphabet, bukan berarti sang adik lebih bodoh dari sang kakak. Pdhl di sisi lain si adik lebih peka pd orla, lebih mandiri dlm mengurus dirinya, dst. Kita lebih sering melihat orang dari kecerdasan intelektualnya, daripada hal positif lainnya.

Berkaca dari pengalaman pribadi, sejak kecil saya selalu dituntut menjadi juara kelas, walaupun hal itu positif sehingga membuat saya terpacu untuk selalu jadi yang terbaik, tapi ada juga suatu fase dimana saya merasa tertekan saat saya gagal memenuhi harapan ortu. Memang suatu yang wajar, jika ortu bangga dg prestasi anak secara akademik, tapi sebenarnya kecerdasan itu tidak melulu didapat dari apa yang tertulis di dalam rapor. Ada kecerdasan2 lain yg juga patut kita apresiasi/hargai. Kata para ahli nih, ada 10 ruang kecerdasan ataw bhs kerennya Multiple Intelligence, yaitu: Kecerdasan Berbahasa, Kecerdasan Matematis, Kecerdasan Sebab-akibat (Logika), Kecerdasan Spasial-visual (kecerdasan yg berhubungan dg bentuk, ruang dan warna), Kecerdasan Musikal, Kecerdasan Kinestetik, Kecerdasan Interpersonal (pandai membuka dan memelihara hubungan dg orla), Kecerdasan Intrapersonal (peka thd dirinya, sng mengintrospeksi dan merenung), Kecerdasan Spritual, dan terakhir, Kecerdasan Finansial (kecerdasan dlm mengelola keuangan).

Lho, apa hubungannya ya multiple intelligence itu ama pilih sekolah? Ada juga lah, hehehe... sedikit sok tahu nieh. Menurut saya, kalau sejak dini sudah kelihatan apa kecendrungan sang anak, tentu jadi memudahkan ortu memilihkan sekolah utk anak yg selaras dg kebutuhan dan kemampuannya. Walah, makin ngejelimet aja kata2nya, hahaha…
Orangtua biasanya lebih mengenal anaknya shg kurang lebih tahu apa kelebihan, kesukaan dan kecendrungan anak. Tapi kalau anak kita masih belum terlihat jelas apa kecendrungannya, apalagi di usia 2-3 tahun, coba lihat sesuatu yg menonjol dari anak (bawaan lahir misalnya), ada anak yg mudah hafal lagu walau baru beberapa kali mendengar, ada anak yang cepat bisa jika diajari mengenal bentuk sehingga di usia dini sudah bisa membaca, ada anak yang pandai berbaur, sejak bayi tidak rewel dan ramah pd orla walaupun baru dikenalnya, dst. Ya, susah-susah gampang deh…

Dulu saat saya memasukkan Haura ke playgroup, saya hanya melihat secara fisik ruang kelasnya baik, tercukupi untuk kebutuhan gerak anak, jumlah murid juga cukup (tidak terlalu banyak), alat peraga dan permainannya cukup baik, biaya sekolahnya juga terjangkau serta lokasinya dekat rumah. Tapi setelah sekolah berjalan, dari yang awal-awal sekolah sangat bersemangat, lambat laun (beberapa bulan kemudian), Haura terlihat bosan untuk sekolah. Maka saya mulai mengamati lagi bgmn Haura di kelas, ada beberapa hari, dlm satu hari penuh saya mengamati dari luar kelas bagaimana interaksi Haura dg temannya, jg interaksi guru thd murid2nya. Ternyata, waktu memilih sekolah, saya kurang jeli melihat apa-apa saja nantinya aktivitas dalam kelas, apa saja mainan atau alat peraga yg disediakan, dan bgmn kecakapan dan kreativitas gurunya di kelas.

Sebenarnya Haura mudah mengikuti pelajaran di sekolah, dia juga mandiri, tapi Haura termasuk anak yg moody dan mudah bosan, apalagi jika pelajaran hari itu kurang menarik baginya. Misalnya ketika apa yg sedang diajarkan gurunya, dia sudah bisa melakukannya. Kalau sudah begitu, Haura menjadi pendiam, tidak aktif/ malas berpartisipasi di kelas dan mencari kesibukan lain seperti bercanda dg teman ataw sibuk main sendiri dg imajinasinya. Makanya untuk anak balita, kecakapan dan kreativitas guru turut mendukung suasana belajar anak. Guru jeli saat melihat anak2 bosan/ tidak tertarik dg pelajaran saat itu, ia pandai membangun suasana kelas shg anak2 kembali enjoy di kelas dan berpartisipasi. Guru juga komunikatif shg anak merasa dia diperhatikan keinginannya, bukan dipaksa/terpaksa melakukan tugas karena ancaman. Maka pelajaran kedua yg saya dapatkan adalah carilah sekolah dimana para guru terbuka terhadap ortu (ada komunikasi terjalin, ada pertemuan2 rutin di luar jam sekolah) shg gap antara guru dan ortu bisa diminimalisir, ortu dan guru bisa bekerjasama utk kemajuan anak.

Masalah pendidikan anak memang tidak bisa sepenuhnya kita berikan di sekolah, karena pendidikan anak yang utama adalah dari orangtuanya. Itulah mengapa harus ada keselarasan dalam mendidik baik di rumah dan di sekolah, ada kerjasama dan komunikasi yg baik antara guru dan orangtua. Sbg contoh, ketika anak di sekolah diajarkan tutur kata yg baik, tapi di rumah dia biasa mendengar dan mendapat kata2 yg tidak baik, jangan salahkan guru jika anak kita sering ditegur. Atau ingin anak sholeh, di sekolah anak diajarkan sholat dan mengaji tapi di rumah, ortunya jarang sholat dan tidak pernah mengaji, tentu tanpa diminta anak akan menjadi sama seperti ortunya. Menjadi orangtua yg baik memang butuh perjuangan. Berjuang dan terus belajar untuk memperbaiki diri. Seperti apa anak kita kelak, tergantung contoh nyata ortunya.

Kamis, 22 Januari 2009

DEMAM SEPEDA RODA DUA & RUANGAN TANPA SEKAT


Anak-anak memang selalu senang bergerak, mereka pun tak bisa bermain sepanjang hari dengan satu jenis permainan. Saya suka memperhatikan Haura dan teman bermainnya, jika mereka mulai bosan dg permainan yg ada, maka mereka mulai menciptakan permainan yg baru, sampai mereka bosan lagi dan punya permainan lain yg baru lagi. Saya pikir hal tsb dapat membuat mrk kreatif. Kadangkala ada juga saatnya satu jenis permainan mendominasi selama berjam-jam lamanya, tapi tidak akan pernah bertahan lama sepanjang hari hanya dg main itu-itu saja. Mungkin pendapat saya ini tidak mewakili semua anak, karena objek pengamatan saya ya putri kecil saya itu yg masih di tahap balita.

Seperti beberapa waktu ini, hampir satu pekan, Haura dan kak Meru lagi senang2nya main sepeda roda dua. Khusus untuk Haura sebenernya roda tiga (ada 1 roda kecil bantuan, karena Haura blm pede ketika roda kecilnya dilepas). Setiap hari, mereka berdua begitu bersemangat menunggu waktu main sepeda tiba (soalnya mereka baru diizinkan main di luar rumah di waktu sore hari). Kadang peserta bertambah satu, temannya Haura, si Idham yg usianya lebih tua 8 bln dari Haura. Idham sudah jago bermain sepeda roda dua. Maka mereka bertiga akan bermain sepeda bolak-balik di jl.juragan Sinda IV sampai habis tenaga dan berpeluh keringat, berjam-jam lamanya tak terasa bagi mereka yg sedang bersemangat, sekan tenaga tak ada habis-habisnya. Dan permainan tsb pun kadang harus berakhir saat salah satu dari mereka dipanggil pulang. Usai bersepeda, kadang saya mencuci roda sepeda Haura, karena Haura juga senang bermain sepeda mininya di dalam rumah. Kebetulan rumah saya antara ruang tamu, ruang keluarga dan ruang makan tidak dibatasi sekat pembatas shg ruangan terasa luas, selain karena peletakan perabot rumah seperti sofa dan meja makan yang berada di pojok ruangan sehingga membuat anak2 leluasa bermain sepeda kecil, magic car dan mobil mini di dalam rumah. Tapi, polusi suaranya itu loh, haduh, kalo mrk sdg main, bising banget, tapi lama2 sih saya terbiasa, hahaha…

Pernah ada teman yang berkunjung ke rumah, dan bertanya kenapa saya tidak menyekat tiga ruang tsb agar lebih rapi, tidak blong (memang dari sofa di ruang keluarga bisa terlihat jelas seisi rumah kecuali kamar tidur ortu dan wc). Saya jawab karena saya masih punya anak kecil. Saya ingin anak2 bebas bereksplorasi dg ruangan yg luas. Dan hal tsb juga memudahkan saya yang single fighter di rumah (tanpa mbak prt), sambil beraktivitas tp tetap dapat mengawasi Haura dan teman mainnya. Saya pribadi, kurang merasa nyaman, jika Haura main di luar tanpa pengawasan. Haura masih 3.5 thn, saya masih khawatir kalo2 ada orang jahat, takut diculik atau takut Haura tertabrak motor/mobil, karena rumah kami bukan di komplek tapi di lingkungan rumah penduduk yang jalannya bebas dipakai siapa pun, apalagi motor-motor yang lewat depan rumah kami itu suka sekali ngebut, mungkin karena daerah gang kami cukup sepi dan beraspal. Maklumlah ibu-ibu suka parno alias paranoid,hehehe…

Ruangan yg blong bagi saya saat ini sangat berguna, karena saya bisa membaca atau utak-atik komputer ataupun menonton TV di ruang keluarga, bahkan sambil memasak dan mencuci piring di dapur dapat saya lakukan sambil tetap mengawasi anak2. Memang ada beberapa pekerjaan rumah yg tidak bisa dikerjakan selama anak2 sedang bermain, seperti menyetrika baju dan mengepel lantai. Itu saya kerjakan di saat Haura tidur. Untuk TV, saya cukup selektif, jika anak2 sdg asyik bermain di dalam rumah, saya hanya menonton acara yg aman utk anak2, seperti acara good morning, apa kabar Indonesia, wisata kuliner, harmoni sehat, siraman ruhani, news, dll, tdk boleh ada adegan kekerasan baik fisik maupun verbal, tidak boleh nonton sinetron apalagi gosip, karena walaupun anak tidak ikut menonton tapi dia bisa mendengar dan mencontoh ibunya. Sebisa mungkin memberi pembiasaan pada anak mana yg boleh ditonton, mana yg tidak. Alhmd, putri saya pun mengerti aturan yg saya terapkan. Bahkan jika sedang menginap di rumah nenek, dia akan spontan berkomentar jika melihat tayangan yg tidak baik, seperti saat neneknya nonton sinetron “Nek, itu gak bagus..” Hahaha…

Back to topic ruang tak bersekat, saya pikir tiap orang bisa berbeda-beda dalam mengatur rumahnya, tergantung selera, kenyamanan dan kebutuhan. Mungkin jika Haura dan adik2nya sudah besar, rumah kami bisa dibuat lebih tertata (bersekat, jelas organisasi ruangnya), karena setelah menanjak remaja, anak-anak biasanya lebih butuh space pribadi seperti kamarnya sendiri untuk diuprek-uprek sesuka mereka. Ya, flexible aja lha yaaa…

HAURA, PALESTINA DAN ORANG-ORANG KERDIL


Haura, gadis kecilku yg 4 bulan lagi genap berusia 4 tahun, sudah 2 pekan ini sedang bersemangat dg berbagai hal tentang Palestina. Jika saya sedang menonton TV-One dan ada iklan tentang Palestina, dia akan berlari mendekat dan berkata ”Palestina, kasian ya, mi…” Tentu saja dia berucap begitu karena pernah bertanya tentang Palestina.

Suatu hari menjelang tahun baru, umi dan ayah menonton acara berita di TV-One, ternyata liputan ttg pemboman Israel thdp Palestina. Kita pun jadi terlibat pembicaraan yg ternyata didengerin Haura, yg lagi curious itu. “Kenapa sih Mi, itu?” saat itu sedang ditayangkan rumah sakit di Gaza yg rusak, di ruang ICU itu terbaring seorang anak kecil, kaca-kaca jendela di atas tempat tidurnya pecah, kaca berserakan di lantai. “Kasihan ya nak, kakak itu sakit. Jendela kamarnya pecah kena bom,” kataku. “Iya, kasian ya mi…” usai berkomentar ia pun kembali ke kamarnya sibuk bermain bersama boneka-bonekanya lagi.

Di hari yang lain, dia bertanya, “Mi, Palestina itu apa?” maka saya berusaha menjawab dg sesuatu yg semoga bisa dimengerti dia, “Hmm… Palestina itu Negara. Benderanya ini (saya tunjukan bendera Palestina kebetulan sedang tayang di TV), kalo kita itu orang Indonesia, benderanya merahputih.” jawab saya yg dibalas anggukan Haura, ”Ooh…” Lalu seperti biasa Haura pun kembali sibuk dg mainannya. Memang semakin tambah usia, anak balita makin banyak bertanya, makin kritis dan ingin tahu dg keadaan sekitar.

Ketika pada suatu hari Haura ikut aksi damai solidaritas mendukung Palestina, dia begitu bersemangat. Bangun tidur langsung minta mandi, “ayo mi, kita ke Palestina.” Haduh, lucu dan polosnya, padahal di hari biasa dia paling malas disuruh mandi, hehehe… Usai acara, Haura minta dibelikan lagu (nasyid Shoutul Harakah yg menceritakan perjuangan bangsa Palestina) yang tadi dia dengar saat aksi, Haura memang senang bernyanyi. Jadi ayah mencarikan, dan setelah dapat, Haura senang sekali, setiap sore usai bermain sepeda, dia mendengarkan nasyid tsb dg keceriaan khas anak-anak, bernyanyi sambil melompat-lompat. Bahkan saat neneknya (ibuku) menelpon (Haura itu suka banget ngobrol lewat telpon dg neneknya dan mbak Fira, sepupunya yg TK), eh bukannya ngobrol, malah sepanjang telpon, dia nyanyi lagu ”Harapan itu Masih Ada”, sampai-sampai ibuku tertawa geli dan berkomentar “Haduh, cucu nenek, kecil-kecil jadi mujahidah ya…” Hahaha…

Selain semangat bernasyid, Haura juga suka bermain peran bersama kakak sepupunya, main perang2an melawan Israel. Maka merekapun bergaya bak jagoan, kepala diikat tulisan ”Save Palestine”, si kakak yg berusia 7 thn membawa senapan mainan, sedang Haura membawa bonekanya, kadang juga Haura membawa kotak peralatan dokternya. Kalo jadi dokter, Haura mengobati kak Meru jika tertembak Israel. Kalo sama2 jadi pejuang sibuk berdarderdor. Dasar anak2, ada-ada saja gaya mereka, imajinasi mereka bisa bermain sesuka hati. Saya suka tertawa geli melihat tingkahpolah mereka.

Memang tragedi kemanusiaan di Gaza Palestina membuat siapa saja yang lembut hatinya utk merasa trenyuh, sedih dan berempati. Apalagi ketika melihat bayi, anak-anak kecil serta wanita-wanita yang menjadi korban terbanyak. Dunia pun terhenyak, seakan baru tersadarkan dari sesuatu yang sebenarnya sudah lama berjalan sejak puluhan tahun yg lalu, sejak Israel merasa berhak atas Negara Palestina, sejak Zionis mengusir paksa para penduduk Palestina dg moncong senjata dan bombardir bulldozer, dan setelah sedikit demi sedikit tanah Palestina berhasil mereka rampas, Israel mendirikan pemukiman2 utk warganya, maka wajar jika Hamas ingin memperjuangkan hak mereka mempertahankan Palestina sbg Negara yg merdeka.

Sungguh ironis melihat wajah dunia saat ini. Saat power masih dipegang oleh Amerika yg merupakan sekutu Israel. Walaupun dukungan terus mengalir utk rakyat Palestina dari berbagai penjuru dunia, bahkan oleh negara2 Eropa yg mayoritas beragama nasrani. Tapi di sisi lain, negara2 Arab dan negara2 bermayoritas penduduknya islam masih terlihat setengah hati dlm mendukung kemerdekaan Palestina,belum juga menemukan kata sepakat untuk secara ril menolong saudaranya. Bahkan di Palestina sendiri, daerah tepi barat yg mayoritas pendukung Fattah, seperti ”tidak peduli” dengan penderitaan saudara2 mereka di Gaza. Sebuah ironi bahwa kepentingan politik lebih mendominasi kepedulian terhadap sesama. Tapi inilah wajah dunia.

Di Indonesia pun beragam tanggapan atas tragedi Palestina ini. Dari yang mulai bersimpati, yang tidak peduli, bahkan sampai ada yg menghujat. Yg bersimpati, mengadakan penggalangan dana, rela menyisihkan hartanya, berdoa bersama, dan yang paramedis tergerak menjadi relawan kemanusiaan. Sedang yang tidak peduli, menganggap beban hidup disini saja sudah berat, kenapa harus memikirkan Negara lain, dst. Sedang yang mencibir orang2 yang ingin membantu rakyat Palestina sebisanya, mengganggap itu hanya karena kepentingan politik, agar menang pemilu, karena riya (pamer), dst. Bagi saya pribadi, orang2 yang mencibir itu sebenarnya hanyalah orang2 yang kerdil, orang2 yang tidak bisa dan tidak mau berbuat tapi hanya bisa mencari2 kesalahan orla. Kalo kita bersikap tidak peduli, itu hak anda pribadi, begitu pula yg ingin peduli adalah haknya pribadi juga. Kita seharusnya belajar saling menghormati perbedaan. Kenapa harus menghujat orang yang ingin berbuat baik?

Dan jawabannya saya rasa tergantung pada dimana hati kita berpijak. Seperti yang dijelaskan pak Mario Teguh di acara the Golden way sesi “Heal the World”, bahwa hati manusia itu terdiri dari dua titik, titik hitam dan titik putih. Titik putih yang mengajak kepada kebaikan, hal2 optimis, berpikiran positif, dst. Yang titik hitam mengajak kepada keburukan, pesimistis, mudah berprasangka buruk, dst. Titik tsb bisa diibaratkan sebagai dua ekor anjing peliharaan, si hitam dan si putih. Yang manakah yang lebih sering diberi makan oleh kita, itulah yang mendominasi hati kita.
Ayo, kita lebih sering kasih beri makan si putih atau si hitam? Hohoho…

Kamis, 04 Desember 2008

Lagi-lagi Haura


Haura ini lagi males bangun pagi. Kyknya semangat berangkat sekolah pagi2 lagi kendooor. Mo tau alasannya?
Satu, karena kostum. Haura itu anaknya rada pemilih, mo baju, mo mainan, mo makanan, apa aja harus dia yg pilih. Nah, kebetulan di antara 3 kostumnya (baca: seragam sekolah), ada 2 yg tidak dia suka. Kostum hari Senin: baju putih2 pake rompi, en kostum Jumat: baju muslim. Makanya kalo Senin/ jumat pagi dibangunin utk sekolah, dia pasti lgs ksh byk alasan biar gak pake tu' kostum. Dasar anak2 ya... Lucu, makin gede, makin byk punya alasan, tp bhub emaknya lahir duluan ke dunia fana ini juga punya beribu jwbn utk tiap alasannya, ya udah terpaksa si Haura pake tu' baju,hehehe...

Oya wkt weekend kemarin, kita refreshing ke Sukabumi, rencana mo ngenalin kehidupan alam desa ke anak2. Ternyata, Haura blom bisa, dia jijik bgt ama lumpur. Baru kecemplung dikit, udah histeris minta naik. Boro2 mo nanam padi en kejar (tangkep) bebek, ya udah si emak berpura2 berani, nyemplung lah ia ke lumpur. Proot... aduh geli bgt, lembek dan dalem? haduh pantes aja tadi Haura panik, berasa tanah yg kita pijak menyedot kita (taela..). Udah kepalang nyemplung, ya udah kejar2an lah tangkep bebek. Akhirnya dapet jg dg bantuan mas2 penjaga, hihihi... Kesian bgt nasib si bebek, bis dikejar2, lalu berikutnya dia dimasak buat makan siang, hiks! kejam... tapi kok enak jg makan bebek goreng.. hmmm nyamiiiiee... kebetulan perut kosong, jd ludes lah tak bersisa... Siang sblm pulang, Haura naik delman keliling kampung en coba naik flying fox. Aduh, emaknya yg copot jantungnya, takut si kecil jatuh. Haura sih awalnya berani, waktu disuruh manjat sendiripun semangat, tapi pas udah di atas, mulai dia takut, ya udah ditemenin ayah deh Haura meluncur ke bwh, suiiing meluncur deh dia, baru kakinya napak di tanah udah meledak tangisnya, hahaha... Tp dia seneng jg, namanya jg pengelaman pertama, msh nervous. Eh kebetulan si emak seumur2 jg blom pernah coba. Kata misua, hayo jgn kalah ama anak. Ya udah kucoba, masya Allah, seumur2 kagak pernah manjat pohon kelapa, pas manjat kok lama bgt nyampenya, baru setengah manjat udah pengen turun lagi, liat ke bwh, idih serem juga, ya udah paksain naik ke atas. Suiiing meluncur deh... Eh, ternyata enak juga, pantes yg udah naek pada ketagihan mo ngulang lagi.. Dasar manusia... Gak pernah puas, hehehe..

Wah, gak terasa ketak-ketik, eh udah dikit lagi Haura pulang sekolah, kudu jemput nih, kalo gak bisa2 dia manyun kayak kemaren wkt aku telat jemput. " Umii, kemana aja sieeh?" padahal bis ketemu aku dia lari main lagi, ya ampunnn, dasar bocah ya... kirain pengen cepet2 pulang ataw kangen uminya gitu, hihihi...

Selasa, 12 Agustus 2008

SAAT HAURA INGIN PUNYA KAKAK DAN ADIK

Suatu hari yang cerah, putri saya yg berusia 3 tahun 2 bln, sedang asyik bermain dengan boneka Minienya sambil bernyanyi "satu-satu aku sayang ibu, dua-dua juga sayang ayah, tiga-tiga sayang adik-kakak...", lalu ia pun berhenti bernyanyi, ia berkata: ": Umi... umi, Haura kok gak punya kakak dan adik sieh? haura kan mau punya kakak sama adik." Rasanya geli sekaligus menohok hati saya. Memiliki momongan lagi juga merupakan keinginan saya. Saya jelaskan padanya bahwa Haura itu anak pertama, insya allah suatu saat akan punya adik. Kalau kakak, kan haura ada kak Meru (kakak sepupu yg kebetulan sehari-hari mjd teman bermain dan tinggal di sebelah rumah kami). Tapi haura menjawab : "Gak mau! Aku maunya punya kakak sendiri, kakaknya haura!" Wah, putriku... kupeluk ia dan menghiburnya. "Sabar ya nak..". Aku teringat sudah beberapa waktu ini Haura selalu ribut minta adik. waktu di sekolah ada ibu yang menggendong bayi, ia menunjuk sambil berkata: "Umi. aku mau adik kepala botak". Waktu berkunjung ke panti asuhan balita di Cipayung, saat kami di ruang tidur bayi usia 1-1,5 tahun, Haura senang sekali, ia pikir ia datang kesitu untuk memilih adik untuk dibawa pulang. "Umi aku mau adik yang itu" Haduh.. anakku.. maafkan umi masih juga belum diberi kepercayaan lagi untuk memberimu adik.

Saya menyadari di usia 3 tahun, Haura tentu merasa sepi tinggal di rumah hanya bersama orangtuanya, belum ada adik yang menambah semarak rumah kami. Aura kekakakan dia memang sudah tumbuh, dia senang bermain dg bayi, mengajak mereka bercanda, seperti bermain cilukba, mencium, dst. Di rumahpun, dia suka bermain boneka dan memperlakukan mereka bak adik kecilnya, Haura suka memandikan mereka, memakaikan baju, membuatkan susu dan menyuapi mereka, persis seperti gaya saya sehari-hari bersamanya.

Betapa inginnya saya hamil lagi, tapi yang Maha Berkehendak masih belum mempercayakan saya lagi mengemban amanah-Nya. Waktu terus berjalan, saya juga tidak ber-KB, saya dan suami juga alhamdulillah sehat, tapi memang belum rizkinya. Yang dapat dilakukan adalah tetap bersabar, berusaha dan optimis. Insya Allah dg izin-Nya suatu saat nanti saya akan hamil juga. Doakan ya. Untuk ini saya tidak segan-segan meminta siapa saja mendoakan saya agar hamil lagi. saya yakin dg kesabaran, pasti akan berbuah juga. (Sabtu, 9 Agustus 2008, miladnya Meru ke-7 tahun)

Kamis, 07 Agustus 2008

HAURA BELAJAR SEKOLAH


Senin 14 Juli 2008, Haura mulai masuk playgroup di TK deket rumah. Sebenarnya udah sejak lama Haura minta sekolah sejak usianya 2 tahun, tapi saya menunggu sampai usianya cukup yakni usia 3 tahun.

Di hari pertama sekolah, Haura masih terlihat "takut", ia tidak mau ikut berbaris, hanya mau saat didampingi saya. Wah, saya membatin, jangan-jangan nanti saat di kelas juga demikian. Usai berbaris, saya masih mengantarnya Haura ke kelasnya, lalu saya bilang padanya kalau sekolah, Haura duduk bersama teman-teman tidak bersama umi. Saat saya keluar kelas, ia tidak menangis. Haura pun mulai belajar mengenal lingkungan kelasnya. Di luar kelas, saya masih mengamati putri kecil saya, saya ingin tahu apakah ia termasuk murid yg cepat beradaptasi atau perlu waktu lama. Alhmdulillah, ternyata di dalam kelas, Haura terlihat menikmati, ia aktif menjawab dan merespon kata-kata gurunya.

Hari berganti hari, tak terasa sudah hampir satu bulan Haura belajar sekolah. Waktu belajar Haura hanya 2 jam selama 3x 1 minggu (Senin, Rabu, Jum'at), sehingga Haura masih punya banyak waktu bermain di rumah dan beraktivitas. Saya tidak ingin di usianya yang masih belia, dia terbebani untuk sekolah. Saya memasukkan dia PG untuk Haura belajar bersosialisasi dengan teman sebayanya, bukan untuk membuatnya bisa membaca dst. Karena hal tsb sebenarnya bisa dilakukan di rumah. Sedangkan berteman dengan banyak anak itu yang sulit didapatkan Haura di lingkungan rumahnya. Di lingkungan rumah kami, yang sebaya dg Haura hanya 2 orang. Di PG dg 12 murid (7 anak perempuan dan 5 anak laki-laki), tentu dapat membuat Haura belajar mengenal karakter dan polah temannya yang berbeda-beda. Ada anak yang kalem, pendiam, pemalu, tergantung pada ibunya, ada juga anak yang tidak bisa diam, anak yang lincah, cerewet, mau tahu, dst.

Seperti juga orang dewasa, ternyata anak-anak juga senang bermain/berteman dg anak yang "mirip" dengan dirinya. Ini tentu bukan kesimpulan, hanya berdasarkan pengamatan saya yg subjektif. Putri saya, Haura termasuk anak yang tidak bisa diam, ingin tahu, cerewet tapi juga tidak mudah nyaman dg lingkungan baru. Dari 11 teman sekolahnya, Haura paling suka bermain dg Hanum, sama-sama anak yang aktif dan lincah. Walau begitu, namanya anak-anak, Haura juga tetap bermain dg teman yg lain. Tp jika ditanya siapa teman yg paling disukai pasti jawabnya Hanum. Padahal di antara para ibu, saya paling dekat dg ibunya Shafa, hehehe... Lain ibu, lain anak ya.. 

Yg paling menyenangkan saya, setiap hari sekolah, di pagi hari Haura selalu mudah dibangunkan, kadang dia sudah bangun pagi-pagi sekali, beda sekali dg hari-hari sebelum sekolah yang bangun tidurnya suka-suka dia dan kalau dibangunin suka ngambek. Sepertunya Haura semangat sekali sekolah.


Selasa, 18 September 2007

ANAK SUSAH MAKAN


Siapa hayo ibu yang seneng anaknya susah makan atau picky eater (yang suka pilih-pilih makanan or maunya makan itu-itu aja) ??? pasti gak ada lha yaa...

Tanya juga gimana reaksi mereka manghadapi anak-anak tipe tsb. Kayaknya saat makan menjadi "perang" ibu dg sepiring makanan dengan sang anak, dari aksi menutup mulut rapat-rapat ataow kalopun berhasil makanan masuk ke mulut dg sukses pula disembur/dimuntahin lagi, atau anak yg harus kejar-kejaran dulu kalo makan, sekalian sang ibu jadi olahraga deh, hehehe.. kalo waktu nulis sih bisa ketawa-ketawa, tapi kalo lagi saat ini menghadapi adegan itu, walah-walah, benar-benar menguji kesabaran banget gak sieh??? apalagi jika proses makan yang ngabisin waktu berjam-jam, gimana gak stres kan?

Biasanya utk mengatasi problem anak seperti ini, kuncinya adalah SABAR, bersabar dalam menghadapi polah anak dan terus berusaha mencari cara agar anak menyenangi acara makan dan makan menjadi momok yang menyenangkan untuk anak. Begitu nasihat yang saya dapat dari dokter atau dari literatur buku, dll.

Pada kenyataannya menjadi sabar, benar-benar butuh proses dan perjuangan yang panjang, yang kadang melelahkan, apalagi jika pola makan anak sama sekali tak kunjung berubah.

Saya sendiri termasuk ibu yang pusing dengan pola makan putri saya ini.
Pada awalnya putri saya waktu bayi masih mudah disuapin, namun semakin bertambah usia dan semakin bertambah kepintaran dan kebisaannya, sejak usia 9 bulan-an, dia mulai sulit makan. Walhasil berbagai cara telah saya coba, mulai dari mengajaknya bermain sambil menyuapi makan, makan sambil mendengarkan musik riang, mengajak jalan-jalan, membacakan cerita ttg anak yang suka makan, mencoba variasi makanan, dan makan bersama-sama, tapi sampai saat ini di usia 2 tahun, putri saya masih tetap bermasalah dalam pola makannya. Haura hanya makan dengan porsi sedikit, setelah itu menolak makan.

Rasanya stres sekali setiap kali ditanya orang berapa beratnya sekarang, atau saat kontrol ke dokter dan dokter akan menasehati saya panjang lebar tentang bagaimana membuat suasana makan menyenangkan, dst, dan biasanya putri saya akan diberi tambahan vitamin.

Sampai-sampai saya pernah mengalami puncak stres sehingga mudah sekali menangis dan sensitif dengan komentar orla. Tapi lambat laun saya belajar, apa pun komentar orla tidak terlalu saya pusingkan. Seperti kata-kata orla yg suka membanding-bandingkan tubuh montok anaknya dengan putri saya. Alhamdulillah seiring waktu, nafsu makan putri saya mulai membaik, walau masih mengikuti moodnya. kadang makannya bisa banyak, kadang masih susah. Tidak apa-apa makan sedikit tetapi frekuensinya lebih sering.

Sejauh ini, putri saya termasuk anak yang jarang sakit, walaupun tubuhnya mungil, dia lincah, ceria dan cerdas. saya selalu mengamati tumbuh kembangnya, dan alhamdulillah perkembangan motorik halus dan kasar Haura berjalan baik, perkembangan bicara maupun emosinya juga tidak ada masalah. Haura bisa duduk dan berdiri sendiri di usia 6 bulan, bisa berjalan lancar di usia 12 bulan, mulai cerewet dan pandai menyanyikan lagu anak-anak di usia 18 bulan, di usia 20 bulan sudah bisa berhitung 1-10, bisa memasukkan aneka bentuk ke tempatnya. Di usia 2 tahun, semakin banyak yang ia kuasai, Haura sudah bisa melepas dan memakai baju, celana, kaos kaki dan sepatunya tanpa dibantu, bisa menyusun puzzle zigzag empat kotak sendiri, bisa ngobrol di telpon, dan pandai meniru apa pun yang ia suka terutama aktivitas sehari-hari saya, seperti menyapu, membuatkan susu, dll.

Sebenarnya dari literatur yang saya baca, problem makan anak seperti picky eater ini wajar terjadi di usia 1-3 tahun. Menurut psikolog, hal tsb mrpkn tahapan perkembangan anak yang tjd bersamaan dengan perkembangan egonya. Bisa jadi anak yang picky eater, ortunya jg termasuk orang yg pilih-pilih makanan, sehingga tanpa sadar anak menirunya.

Saya jadi ingat putri saya lagi, di balik sikap menolak makannya (makan yg dimaksud adalah makan utama), sebenarnya ia bukannya tidak mau makan sama sekali. Sejak usia 1 tahun, dia hanya mau makan dengan caranya sendiri. Hanya saja karena ketrampilan makannya belum sempurna, untuk menyendok makanan saja dari piring masih lebih banyak yang jatuh apalagi setelah masuk ke mulutnya, sedangkan yang masuk ke mulutnya cuma sedikit yang tersisa. Makanan yang berserakan di lantai, kadang dengan polos dipungutnya makanan tsb, dan hup masuklah ke dalam mulutnya. Belum lagi jika muncul daya eksplorasinya melihat makanan yang berceceran tsb, malah asyik dimain-mainkannya, sehingga lupa dengan acara makannya. Menemani proses belajar makan anak juga menuntut lagi-lagi kesabaran ibu. Kadang saya suka tidak tahan, ingin menyuapi saja, daripada makanan terbuang-buang, tapi putri saya selalu marah jika "diganggu" saya, dan saya pun akhirnya mengalah dengan membiarkan ia makan dengan caranya sendiri. Usai makan, putri saya akan berlari ke kamar mandi minta dicuci tangannya, dan itu artinya dia tidak mau meneruskan makannya, dan akhirnya saya memberinya susu untuk tambahan gizinya. Putri saya hampir tak pernah makan sayur yang saya berikan, hanya nasi dan lauknya saja. Ini memang masih jadi pe-er saya, sebenernya saya sendiri dari kecil kurang suka makan sayur, ternyata kebiasaan buruk ini "menular" ke putri saya. Wah, bagaimana ini... padahal sejak hamil, saya sudah memaksakan diri selalu makan sayur, dan sampai saat ini pun saya selau makan sayur saat makan bersama putri saya.

Satu lagi, putri saya juga suka mengemil, walaupun juga dalam porsi yang sedikit. Saat ini saya masih belum sempat berkreasi membuat cemilan-cemilan lucu, sedangkan Haura mulai bosan dengan biskuit/kue/krakers yg instan yang mudah dibeli tanpa saya susah-susah payah memasaknya. Setelah memiliki anak, seorang ibu ternyata harus "pandai" berkreasi dengan masakan en cemilan sehat utk anak, hiks... saya sebenernya orang yang malas masak...

Lagi-lagi dapet saran en nasehat dari psikolog, agar ibu tidak sakit hati dan patah semangat, karena sudah capek-capek membuat masakan tapi kemudian tidak dimakan anak. Jadikan hal itu sebagai tantangan untuk lebih kreatif lagi menyajikan menu yang bervariasi dan makanan yang bisa menggugah selera anak. So, semangat euiyyy... Ayo, ke dapur, bu!!!

Ini ada 10 taktik jitu hadapi anak susah makan (sumber: majalah ayahbunda, no.10/2007)
1. Nampan aneka warna
Sajikan aneka jenis potongan kecil buah, camilan, kue, dll di atas nampan yang menarik
2. Dicelupkan, ini salah satu favorit anak.
Misalnya biskuit dicelupkan dulu ke susu sebelum masuk mulut
3. Dioleskan
Oleskan sesuatu lebih dulu di atas permukaan makanan. Misal ajarkan anak mengoleskan mentega/ selai kacang/ selai buah di atas selembar roti, biskuit/ krakers.
4. Sedotan
Ajaklah si kecil membuat aneka smoothies, jus buah campur susu atau wheep cream, serta sajikan dg sedotan. Bunyi sruput sedotan menimbulkan sensai yg mambuat anak bersemangat.
5. Mini is more
Potong aneka makanan dalam berbagai bentuk yg menarik dan berukuran mini. Misal sandwich mini dg bentuk segitiga atau segiempat, diberi hiasan tusuk gigi berbendera.
6. Dihias
Setiap anak yang tidak suka makan sekali pun, pasti tergiur mencicipi ketika melihat makanan yang dihias menarik
7. Santap bersama
Ajaklah anak-anak teman anda atau keponakan (apalagi yang doyan makan) menemani sio kecil makan. Biasanya cara ini akan mengubah sikap si kecil yang suka pilih-pilih makanan.
8. Berikan dengan porsi kecil, karena lambungnya masih kecil
9. Libatkan memasak
Mulai dari proses belanja, persiapan hingga penyajian. Dia kan lebih berselera mencicipi hasil karyanya sendiri.
10. Ubah menu
Misal. nasi goreng yang semula untuk sarapan ditukar dengan menu makan malam, yang penting kebutuhan kalorinya terpenuhi.

Dari 10 tips tsb, yg paling berhasil pada putri saya adalah yg poin ke-7 (santap bersama). Setiap kali makan bareng sepupu atau teman main, Haura bisa lahap dan banyak makannya, sayangnya makan bersama ini gak bisa 3x sehari, paling pas makan siang, tapi gpp dech, yang penting terus semangat mencari cara agar si kecil doyan makan. semangat euiiyyy...

Minggu, 09 September 2007

KERACUNAN LAGU POP


Sejak kecil, saya memang suka menyanyi, dan mencapai puncaknya saat smp-smu, dimana tiada hari tanpa musik menemani hari-hari saya. Sambil membaca buku, atow belajar bahkan saat dapet tugas mencuci piring, alunan lagu pasti menemani. Mulut pun asyik mengikuti syair yang dinyanyikan sang penyanyi, mo di kamar ampe kamar mandi sok pede aja nyanyi, padahal yg denger paling udah pada pengen pingsan kali ya.

Saat itu, di era tahun 90-an, saya sangat suka lagu-lagu heavy metalnya Helloween, Jon Bon Jovi, Skid Row, Metallica, dll, yah agak terpengaruh kakakku yg tidur sekamar sieh. Lagu klasik rock macam The Police ampe yg nge-punk seperti Nirvana, Greenday jg suka berat. Musik yg paling saya benci tentu aja dangdut dan disco. Cita-cita saya saat smp, kalo masuk smu mau jadi anak band. Walhasil ketika jd anak baru di smu 28 ragunan, saya sempet mau masuk ekskul Unit Kesenian (UK), eh batal, gara-gara malu pas orientasi kok suaraku yg paling fals. Walhasil, mundur teraturlah aku dari UK krn minder, hehehe...

Setelah belajar mengenal Islam saat kuliah, kesuakaan saya terhadap musik mulai bergeser, saya mulai suka mendengarkan lagu-lagu religius atau nasyid, terutama Snada, Raihan, Bimbo, Izzis, dll.

Waktu masuk dunia kerja, dan seruangan dengan para bapak yang hobi download lagu2 terbaru untuk koleksi MP3nya. Waktu itu pak Ivanosky emang paling hobi ngoleksi berbagai jenis musik, en koleksi lagunya buanyak banget, yang bikin saya tergoda juga pengen dengerin. Apalagi pak Ivan en dwight juga mbak asih begitu getol membangkitkan memory nostalgia saya terhadap lagu-lagu favorit era tahun 90-an itu, back to jadul dech. Walhasil terbiasalah saya mendengarkan lagu-lagu lama, menemani stres dikejar deadline.

Setelah menikah dan berhenti kerja, dan belajar hidup mandiri lepas dari ortu. Kebetulan komputer rmh gak ngedukung utk saya ngedengerin musik. Yang saya punya cuma kaset-kaset nasyid. Alhamdulillah, jadi berkurang godaan duniawi, hehehe... Walaupun kadang masih suka "nyuri-nyuri" lewat klip di MTV or Global TV, tp jarang banget, jarang nonton TV juga sih, sibuk ngurus rumah, en saat hamil juga lagi seneng2nya baca buku-buku parenting, yg berhubungan dengan ngurus bayi.

Kini putri saya sudah berusia 2 tahun. Dan ternyata dia juga anak yang sangat suka menyanyi. Di usia 18 bulan, Haura sudah pandai meniru lagu-lagu anak-anak yang sering didengarnya melalui CD ataupun melalui nyanyian saya sejak dia bayi, saat menemani dia bermain, saat mandi, saat sebelum tidur serta saat membacakan cerita jika saya menemukan objek yang sesuai dengan lagu, saya spontan menyanyi. Walau dengan suara fals, menurut buku yg saya baca, ibu atau ortu tidak perlu minder, tetap pede, karena alunan lagu yg keluar dari hati akan memberi efek kebahagiaan pada anak. Anak tumbuh menjadi anak yang ceria dan periang.

Alhamdulillah, putri saya memang tumbuh menjadi anak yang ceria, lincah dan mandiri. Di usianya sekarang semakin banyak lagu yang bisa dinyanyikannya. Sayangnya, pengaruh lingkungan juga turut memberi dampak terhadap putri saya. Sehari-hari Haura biasa bermain dengan sepupunya (kak Meru) yang usianya terpaut 4 tahun dari Haura. Di sekolah, kak Meru terbiasa mendengar lagu-lagu pop yang sedang hit saat ini, dan hal itu terbawa ke rumah. Dan Haura pun yang sedang senang meniru juga ikut-ikutan suka dengan semua lagu yang disukai kak Meru. Walhasil di usia 2 tahun, Haura sudah bisa menynyikan lagu Surga-Mu, Andai Kau Tahu-nya band Ungu, lalu berlanjut ke lagu2 Nidji, semacam Kau dan Aku, I'm Child, Disco Lazy Time, jg Letto dg Ruang Rindunya. Dan sekarang Haura jg suka menyanyikan lagu Linkin Park "What I've Done" dan Bersama Bintangnya band baru Drive.
Waksss.... Pussiiiiiiiiiiiinggggggggg.....

Apa yang harus saya lakukan dengan racun-racun lagu ini. Semakin hari semakin bertambah saja lagu-lagu yang sebenarnya belum pantas untuk anak usia 2 tahun. Memang saat anak kecil menyanyi, lucu dan gemesin banget melihatnya, tapi lama-lama hati ini miris sekali. Aduh, putri saya kan belum mengerti arti apalagi makna dalam lirik yang dinyanyikan itu. Saya merasa amat bersalah, bagaimana pun juga semua ini terjadi juga karena andil saya juga, membiarkan dia mendengarkan lagu tsb saat bermain di rumah kak Meru, kadang saya juga suka khilaf bersenandung di rumah, aduh rasanya sedih sekali. Menjadi ibu yang baik itu ternyata sulit banget. Tanpa sadar, saya sering memberi contoh yang kurang baik.

Waah, apa yang harus aku lakukan???????

Kamis, 06 September 2007

HAURA SAYANG BUNDA


Suatu hari yang cerah, sama seperti hari-hari biasa, setiap pagi saya mulai disibukkan rutinitas bersih-bersih rumah dan memasak, setelah sarapan pagi.

Pagi itu saat saya sedang meracik bumbu masakan, putri saya, haura yang berusia 2 tahun, datang menghampiri saya. terbersit dalam pikiran saya, pasti seperti biasanya akan mulai "mengganggu" aktivitas saya.

Putri saya duduk manis di samping saya yang sedang mengupas bawang merah.
Haura : "Ini apa, mah?" (sambil menunjuk bawang merah)
Bunda : "Oh, ini bawang merah." (saya mulai membatin, pasti setelah ini dia akan ikut-ikutan mengupas bawang dengan pisau mainannya)
Haura : "ini apa?"
Bunda : "itu bawang putih"
Haura berlari menuju pojok mainannya. Di pojok itu ada sebuah meja dan dua kursi mungil, serta box berisi mainannya, termasuk peralatan masakannya.

Haura sibuk mencari sesuatu dalam box
Haura : "Manaaa pisauku?"
(Bunda membatin, wah.. mulai deh..)

Haura datang dengan membawa pisau mainannya, duduk manis lagi di samping saya, tangannya mengambil bawang merah.
Bunda : "Nak, kupasnya yang bawang putih saja. Kalo bawang merah nanti mata kamu perih, keluar airmata." (saya berusaha menjelaskan alasan pilihan saya)
Haura : "Ooh..." (sambil melepas bawang merah dan mengambil bawang putih dari keranjang bumbu)

Haura pun asyik mengupas bawang putihnya, sambil melirik cara saya mengupas. Tapi karena pisau Haura hanya mainan, Haura tidak berhasil mengupas bawangnya. bawang tsb malah jatuh dan menggelinding di lantai.

Merasa lucu dengan apa yang dilihatnya, haura lupa akan keinginannya mengupas bawang. haura mengambilk bawang-bawang lainnya dan mulai menggelindingkannya denga pisau mainannya. Ia tertawa-tawa geli melihat aksinya sendiri.
Bunda : "Hayoo, Haura. Bawangnya ditaruh lagi kesini ya" (menunjuk keranjang bumbu)

Haura masih asyik menggelindingkan bawang-bawang seakan-akan bermain golf mini. Tiba-tiba ia datang menghampiriku lagi. Kupikir ia akan mengembalikan bawang-bawang tadi. Kepalanya yang mungil dijulurkan ke arahku dan tiba-tiba saja, Haura mengucapkan kata-kata yang mengejutkan.
Haura : "Mah, Uwa (Sebutan Haura krn ia masih cadel) sayang mah..."
Deggg! Byuurr... Rasanya baru kali ini saya merasakan sensasi yang luar biasa dari seuntai kalimat yang dilontarkan putri kecil saya.

Di usianya yang baru 2 tahun, ia sudah bisa belajar mengucapkan kata cinta.
Haru menyeruak di hati saya, begitu dalam.
lalu saya peluk putri kecil saya ini,
Bunda :" terima kasih ya nak..."
Putri saya pun berlari ke pojok mainannya dan mulai asyik bermain masak-masakan, meninggalkan saya yang masih terpesona dengan lontaran spontan putri kecilku.

Ya Allah, betapa bahagianya saya.
Mungkin saya terlalu sentimentil. Tapi rasanya setiap ibu mungkin akan merasakan sama seperti apa yang saya rasakan saat ini.

Duh, hari itu saya sangat bersemangat menjalani hari. Hatiku dipenuhi bunga-bunga cinta.
Nanti saat suami pulang kerja, saya akan mengucapkan rasa sayang saya padanya, hehehe... Belajar mengucapkan cinta dari seorang anak usia 2 tahun, rasanya gak salah juga kan? hmmm....

(Home sweet home, 7 September 2007)